INA KA’U MARI, BO SANGAJI KAI & TERBUKANYA PINTU DUNIA GAIB
- Mar 18, 2017
- 5 min read

Sabtu, 17 Maret 2017. Putri Bima itu telah mangkat menghadap Illahi Rabbi. Tentu saja bukan hanya masyarakat Bima yang kehilangan beliau. Ibu DR. Hj. Siti Maryam Salahuddin. Ya, sebagai pribadi beliau dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja, ramah, terbuka dengan siapa saja. Padahal beliau adalah Putri Sultan. Masyarakat Bima biasa memanggilnya “Ina Ka’u” atau “Ruma”, gelar kebangsawanan tertinggi dalam tradisi Dana Mbojo. Tidak main-main sebutan Ruma itu bukan sekedar Ratu, adalah “bayangan Tuhan di muka bumi” (Zill Allah fil’alam). Meski begitu tak ada kesan tinggi hati atau “kepongahan” sebagai ciri kebangsawanan pada umumnya. Beliau selalu tampil sebagaimana “perempuan” kebanyakan. Gaya hidupnya tidak glamour, cara berpakaiannya biasa saja, sikap dan tutur katanya sangat santun. Satu hal yang tidak biasa adalah, kehalusan budinya, menandakan kecerdasan dan kekuatan karakter yang sangat teruji oleh pengalaman hidup. Itu akan membuat sesiapapun “terpesona” dengan pembawaannya yang dalam itu dan menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan seorang “Ratu” yang sebenarnya.
Putri Kesultanan Bima yang hidup dalam 5 zaman dan mengalami pergantian 7 presiden ini (lahir pada tanggal 13 Juni 1927) memang telah banyak makan asam garam kehidupan. Beliau juga pernah berkarir di Departemen luarnegeri, Departemen kehakiman hingga menjadi anggota DPR-MPR dua periode. Kiprahnya dalam bidang sosial kemasyarakatan juga tak diragukan lagi. Beliau aktif dibanyak organisasi, dan selalu hadir memenuhi undangan siapapun.
Tetapi bukan hanya itu. Sumbangsih beliau terhadap dunia pengetahuan, terutama dalam kajian sejarah sungguh sangat luar biasa. Melalui serangkaian penelitiannya, terutama bersama koleganya~ilmuwan Perancis Henri Chambert Loir, yang menelaah naskah-naskah kuno warisan Kesultanan Bima, terutama Bo Sangaji Kai itu tak hanya mengajak kita bertamasya ke masa lalu dengan sangat utuh, tetapi diajaknya kita berbagi salah satu "harta karun terbesar" Nusantara.

Ya, bagi para penempuh jalan pengetahuan”, Bo Sangaji Kai bukanlah sekedar kumpulan cerita usang tentang masa lalu yang berbalut mitos supranatural, dunia apokalipstik yang dipenuhi kegaiban-kegaiban. Di tangannya, Bo Sangaji Kai adalah risalah yang sangat penting bagi dunia ilmu pengetahuan. Sebab ia tak hanya berbicara tentang kesultanan Bima an sich, silsilah para raja dan penguasa atau kerajaan-kerajaan disekitarnya, hubungan antar manusia dari generasi ke generasi, juga tradisi budaya yang mengelilinginya, serta kejadian-kejadian penting dimasalalu yang luput dari rekaman sejarah formal. Bo Sangaji Kai adalah pintu masuk ke dalam rumah besar sejarah Nusantara, bahkan sejarah peradaban dunia, yang disajikan secara sangat ensiklopedik.
Penerjemahan kitab “rahasia” kesultanan Bima itu memang seperti membongkar seluruh alam pikiran sejarah selama berabad-abad, migrasi dan transformasi pengetahuan serta nilai-nilai, yang mengalir ke sebuah muara yang jernih dimana sungai-sungai bertemu dengan lautan bernama kebudayaan. Saya tak membayangkan saja keberanian beliau menerjemahkan kitab kuno warisan kerajaan Bima semacam Bo Sangaji Kai yang sangat disakralkan itu.
Saya sering berpikir, apa yang membuat beliau berani menabrak “taboo” yang disimpan dengan sangat rapi selama berabad-abad itu? dan benar saja, bahkan dari lingkaran sendiri, akhirnya banyak sekali muncul Bo “tandingan”. Orang-orang seperti banyak yang kebakaran jenggot, mereka bahkan tak henti menyebarkan isu bahwa versi yang dikemukakan Ina Ka’u itu adalah versi “bayangan”. Ada banyak Bo-Bo lain yang lebih valid, katanya. Seseorang entah siapa konon menyimpannya.
Kenapa? Apakah ini terkait dengan perebutan kekuasan dari zaman ke zaman hingga hari ini? Terbongkarnya rahasia dapur kekuasaan? Atau bahkan semacam pendelegitimasian kekuasaan formal termasuk kuasa pengetahuan? Atau dunia batin yang terkoyak? Sebab Bo Sangaji Kai menceritakan dengan sangat jujur, bahkan terkadang frontal dan vulgar kejadian-kejadian sejarah yang terjadi dari era lahirnya Kerajaan Bima di abad-abad entah hingga menjadi kesultan sampai berakhirnya kekuasaan kolonial? Orang boleh tidak menyukai budaya feodal ala kerajaan, tapi coba tanyakan ke setiap orang di Bima atau yang mengenal sosok beliau, semua akan tunduk takzim dengan penuh cinta dan kekaguman.

Apapun itu, saya mulai memahami bahwa Ina Ka’u sangat menyadari ketika di akhir tahun 1950-an Sukarno membekukan seluruh kerajaan/kesultanan di Nusantara (Kecuali Jogja dan Solo?), ditambah dengan kekuasaaan sentralistik ala Orde Baru yang sangat meminggirkan kearifan lokal, tak ada lagi yang akan mampu “menjaga” marwah tradisi yang sudah meng-genealogi selama berabad-abad itu. Apalagi hanya semacam “benda fisik” meskipun ada capnya “pusaka” atau cagar budaya yang dilindungi. Bukankah pasca kemerdekaan, terutama di era Ordebaru marak sekali pencurian bahkan penjualan aset kerajaan-kerajaan di Nusantara baik yang dilakukan oleh keluarga istana atau pejabat-pejabat daerah yang kebanyakan berlatar Tentara itu? Satu persatu benda-benda warisan leluhur Nusantara sirna, entah dimakan rayap peradaban yang berubah atau karena faktor pengabaian. Mungkin karena pembacaan itu Ruma Mari berpikir lebih baik menyerahkannya kepada dunia “ilmu pengetahuan”. Sebab siapa lagi yang bisa diharapkan untuk menjaga harta karun itu selain insan-insan yang peduli dengan khazanah ilmu pengetahuan meskipun mereka mungkin berasal dari benua antah-berantah. Beliau meyakini dengan membagikannya ke khalayak, harta karun itu tak akan hilang. Justru akan sangat bermanfaat bagi tumbuh kembangnya kebudayaan di masa-masa mendatang.
Kecintaan Ina ka’u mari terhadap ilmu pengetahuan, terutama bidang filologi yang beliau tekuni memang tak diragukan lagi. Bahkan diusianya yang sudah sangat uzur, beliau menyusun disertasi doktoral dan berhasil mencapainya di usia 83 tahun! Semangat belajar seperti apa yang mampu menandinginya? Beliau seperti ingin mengatakan bahwa pekerjaannya yang ditekuninya bukanlah sesuatu yang main-main. Beliau juga ingin menunjukkan dengan penuh kesungguhan bahwa aspek kesejarahan itu seperti membuka pintu tebal yang memiliki banyak korelasi, relevansi, bahkan dengan dunia kontemporer, kekinian, dan bidang-bidang yang tengah dilingkupi perdebatan sengit serta penuh kontroversi di dalamnya.
Tengok saja beberapa buku yang beliau tulis Seperti “Hukum Adat dan Undang-undang Bandar Bima” ( 2004). Melalui buku ini beliau tak hanya berbicara tentang kejayaan maritim dimasa lalu yang jauh itu, tetapi seperti ingin mengatakan betapa pentingnya membangun kembli kejayaan maritim Nusantara jika bangsa Indonesia ingin maju dan berdaulat. Qanun (hukum) kelautan Bima adalah sebentuk bukti nyata, bagaimana alam pikiran maritim Nusantara itu bekerja.
Atau karya lainnya, “Naskah Hukum Adat kesultanan Bima dalam perspektif Hukum Islam”. Sebuah kajian tentang hukum adat yang sangat komperehensif dengan pendekatan yang juga tidak lazim, Maqasid Syari’ah. Ilmu paling mendasar tentang “epistemologi” penyusunan Hukum Islam. Sebuah karya yang sangat menohok tentang Islam dan Kenusantaraan ditengah kontroversi tentang usaha penerapan syariah dimana-mana. Seolah yang berbau Syari’ah itu sesuatu yang menakutkan,berlawanan dengan prinsip hukum modern, formalistis, kaku, ke-arab-araban dan meninggalkan jatidiri ke Indonesiaan. Juga bukan karya gagah-gagahan, budaya feodal yang coba dibangkitkan kembali oleh lingkaran yang mengatasnamakan raja/sultan/bangsawan setelah lama terkubur.
Beliau bukanlah seorang agamawan, tetapi melalui keilmuan yang dimilikinya beliau seperti ingin menunjukkan betapa Islam itu bukanlah agama yang ekslusif, adalah agama yang Rahmatan lil Alamin. Bahwa adat istiadat yang baik juga bersesuaian dengan hukum Islam, dan keduanya memiliki korelasi tak terpisahkan dalam membangun serta mengembangkan kebudayaan. Beliau tak hanya berwacana, namun langsung mencontohkan, bahwa yang seperti itu pernah diterapkan sebagai hukum positif di Kesultanan Bima, dan meskipun saat ini telah tergantikan dengan Hukum Positif versi Negara Kesatuan Indonesia, namun spiritnya masih terus menyala dalam setiap detak jantung Kebudayaan Bima dan Nusantara pada umumnya.
Bagi saya, Ina ka’u Mari bukanlah sekedar Benteng penjaga Tradisi. Beliau pembuka pintu-pintu “kegaiban” masa lalu serta masa depan. Sebagai penunjuk arah, agar Kebudayaan Nusantara berkembang lebih baik lagi. Selamat Jalan Ruma...












Comments