KOPI VS TEH, DAN SEJARAH PERTARUNGAN INDENTITAS BUDAYA di NUSANTARA
- Mar 15, 2017
- 5 min read
Sebenarnya kedua komoditas ini~Kopi dan Teh~masuk ke Nusantara hampir bersamaan. Kopi mulai dikenal di Nusantara semanjak tahun 1696 ketika Walikota Asterdam, Nicholas Witsen memerintahkan komandan pasukan Belanda di Pantai Malabar, Adrian Van Ommen, untuk membawa biji kopi ke Batavia. Kopi Arabika pertama-tama ditanam dan dikembangkan di sebuah tempat di timur Jatinegara, yang menggunakan tanah pertikelir Kedaung yang kini lebih dikenal dengan Pondok Kopi. Sedangkan menurut catatan, tanaman teh (camelia sinensis) justru terlebih dulu masuk ke Nusantara, yakni pada tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh orang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jayakarta. Meski demikian, keduanya baru ditanam secara masif dan menjadi komoditas penting kolonial baru sekitar pertengahan abad ke 18, dan menjadi penanda perubahan moda ekonomi kolonial dari perdagangan rempah-rempah menjadi industri berbasis perkebunan.

Diluar catatan resmi tersebut, tengarai saya, tanaman kopi sudah terlebih dahulu masuk melalui pedagang Arab dan Gujarat. Sebab mereka terlebih dahulu eksis dibanding para pedagang kolonialis Eropa dan sudah memperkenalkan tanaman Kopi ke Masyarakat, khususnya diwiayah pedalaman nusantara.
Apakah tidak ada kemungkinan orang-orang Cina, semisal era Ekspedisi Laksmana Chengho atau bahkan era sebelum itu ketika bala tentara Mongol dibawah Kubilai Kan mencoba meng-invasi Shingasari abad ke 13 sudah membawa tanaman Teh, mengingat tradisi teh sudah lebih dahulu berkembang di China dan Jepang? Apalagi konon para tentara mongol dibawah dinasti Yuan saat itu banyak yang berasal dari Jepang.
Bisa jadi. Tetapi jika kita lihat karakter kedua jenis tanaman tersebut dan bagaimana masyarakat di Nusantara memperlakukan keduanya, sepertinya tipis kemungkinan tanaman Teh ditanam secara masif di Indonesia. Umumnya tteh diproduksi skala masif dalam bentuk perkebunan-perkebunan berskala besar. Sedangkan tanaman kopi, selain ditanam dalam bentuk perkebunan besar, masyarakat sendiri sudah sangat lazim menanamnya dilingkungan sekitar rumah, terutama yang berada di daerah pegunungan.
Dari bukti arkeologis misalnya, kita bisa menemukan biji-biji kopi yang terkubur oleh letusan gunung Tambora di Pulau Sumbawa tahun 1815. Itu artinya tanaman kopi sudah dikenal oleh masyarakat lingkar tambora jauh sebelum itu, sekitar tahun1750-an yang dibawa oleh para pedagang Melayu (Arab) dan ditanam oleh masyarakat di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara sebelum letusan dasyat tahun 1815 itu. Sedangkan tanaman Teh baru masif ditanam oleh pemerintah kolonial pada tahun 1827, di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut. Berhasilnya penanaman dalam luasan yang lebih besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh. untuk membuka landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa. Pada tahun 1828, di kedua daerah tersebut terdapat ± 180 hektar tanaman teh dengan produksi sekitar 8.000 kg teh kering.
Teh dan Kopi dalam kontestasi sosial masyarakat Jawa
Masyarakat jawa menurut Clifford Gerts dikategarosasikan ke dalam tiga golongan, yakni santri, abangan, dan priyayi. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang muslim yang mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat islam. Kelompok abangan merupakan golongan penduduk jawa muslim pada umumnya yang mempratikkan islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan kelompok santri yang ortodoks dan cenderung mengikuti kepercayaan adat yang didalamnya mengandung unsur tradisi Hindu, Budha, dan Animisme. Sedangkan kelompok priyayi digunakan sebagai istilah orang yang memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi, kaum terdidik atau sering disebut kaum bangsawan.
Terlepas kita sepakat atau tidak dengan tesis Geertz tersebut, ketegangan kaum santri, priyayi dan abangan terlihat jelas pada hubungannnya dengan persoalan status sosial hingga perebutan ruang kuasa ekonomi, sosial, budaya bahkan keagamaan. Hubungan ketiganya jelas tidak pernah mulus. Bagi Kaum Santri dan Abangan pada umumnya, Kaum priyayi adalah sejenis kaum penghisap yang seringkali bekerja sama dengan pemerintah kolonial, mengingat hadirnya kelas ini sering dianggap sebagai kelas bentukan kolonial (Belanda) sebagai pengganti bangsawan feodal yang dinilai tidak lagi efektif menjalankan skenario kolonial pasca ekonomi rempah-rempah atau di era Industri perkebunan.
Pada awal abad 19 (tahun 1800an) Pemerintah kolonial memang sedang kesulitan mencari pekerja Eropa akibat krisis yang melanda sebagian besar Eropa (Apakah ini ada kaitannya dengan perang Napoleon dan bencana katastropi akibat meletusnya Gunung Tambora, kita lihat dalam bahasan lain ya). Pemerintah Belanda konon sampai membuat iklan besar-besaran kepada siapa saja yang mau bekerja di tanah jajahan, selain mendapat gaji besar juga disediakan Nyai atau gundik pribumi. Iklan yang menayangkan exotisme nusantara itulah yang kemudian dikenal sebagai genre Mooi-Indie dalam dunia senirupa.
Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja terdidik tersebut, akhirnya pemerintah Kolonial menerapkan politik balas budi dengan membangun sekolah-sekolah untuk kaum pribumi. Tujuannya sudah jelas untuk menjadi tenaga profesional di perkebunan-perkebunan (terutama perkebunan Teh) yang baru dibuka diberbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Kaum terdidik bentukan Belanda inilah yang kemudian disebut Kaum Priyayi.

Secara Kultur, kaum priyayi ini memang masih cukup mewarisi kehidupan feodal. Sebab kebanyakan peserta didik pribumi di sekolah-sekolah Belanda ini pada umumnya juga anak-anak bangsawan yang memiliki akses ke pemerintah kolonial. Para priyayi sering menganggap bahwa kedudukan status sosial mereka lebih tinggi dibangdingkan kaum abangan dan Santri sehingga mereka tidak suka jika kaum abangan yang mayoritas petani meniru gaya hidup mereka. Karena itu mereka juga menciptakan identifikasi khusus yang meneguhkan kelas sosial mereka dengan menciptakan budaya “Klangenan”, semacam romantisasi dari kebesaran citra masalalu (Adiluhung). Seorang priyayi pada umumnya mengidentifikasi diri dengan menyukai hal-hal yang berkaitan dengan “seni halus” seperti mencintai Batik, Keris, memiliki hewan piaraan semacam burung perkutut, dan…minum teh di pagi dan sore hari.
Kaum Santri sebenarnya juga merupakan kelas terdidik, meskipun bukan pendidikan formal yang disediakan pemerintah kolonial. Mungkin karena itu Kaum Santri dan Priyayi juga sulit ketemu. Umumnya mereka (Kaum Santri) merupakan orang-orang pribumi yang memiliki hubungan khusus dengan orang-orang Arab yang kebanyakan menjadi pedagang besar di wilayah pesisir atau kota-kota besar di pedalaman. Sebagian pedagang yang sukses membuat sekolah-sekolah sendiri dalam bentuk pesantren yang umumnya berada didekat masjid besar disekitar pasar kabupaten atau kecamatan.
Kaum Priyayi menganggap Kaum Santri adalah pesaing utama dalam memperebutkan berbagai posisi sosial. Dimata para Priyayi, Kaum santri adalah "agen perubahan" yang merusak tradisi. Sebab dalam alam pikiran feodal, harmoni alam itu akan tercapai jika mengacu pada tatanan sosial yang terbentuk seperti dimasa lalu. Karena itu Kaum Santri sering dicurigai sebagai penghasut dan “provokator” yang merusak tatanan sosial dalam konteks alam pikiran feodal kaum priyayi.
Dalam banyak hal Kaum santri menyebut para priyayi ini juga sebagai kaum Abangan yang masih mempraktikkan ilmu-ilmu magis dan percaya tahayul. Mereka (Priyayi) sering dituduh sebagai kaum perusak agama karena sering mencampur-adukkan ajaran agama untuk keperluan kekuasaan. Keduanya seringkali menggunakan Kaum Abangan sebagai musuh bersama, disisi lain mereka memerlukan kaum Abangan untuk melegitimasi kekuasaan/pengaruh masing-masing kelompok sosial tersebut.
Konflik antara kaum Santri dan Priyayi ini tidak jarang berujung pada konflik fisik. Perang Paderi di Sumatera merupakan bukti kongkret konflik tersebut. Bahkan banyak pula yang menyebut bahwa Perang Diponegoro itu juga merupakan konflik terbuka antara Kaum Santri dan Priyayi. Meskipun Diponegoro merupakan seorang bangsawan, Priyayi, namun ia menjadi bagian dari bangsawan yang terbuang. Diponegoro banyak dibantu Kaum Santri dalam perjuangannya melawan Patih Danurejo yang dibantu oleh kekuasaan Kolonial.
Kembali ke persoalan identifikasi budaya masing-masing kelas sosial Priyayi, Santri dan Abangan, ada pola umum yang mudah dijumpai. Jika kaum Priyayi sering mengkonsumsi Teh sebagai identifikasi dari kehalusan rasa, maka Kaum Santri dan Abangan lebih akrab dengan tradisi minum Kopi. Secara Kaum Priyayi memiliki akses ke pemerintah kolonial dan banyak bekerja sebagai mandor perkebunan.
Sementara Kaum Santri lebih dekat dengan budaya Arab yang mengkonsumsi kopi. Bahkan dalam periode berikutnya kegemaran kaum santri menyantap Kopi ini semakin terlegitimasi ketika Syeikh Ihsan bin Muhammad Dahlan Al-Janfasi Al-Kadiri atau Syeikh Ikhsan Jampes menulis risalah Irsyad al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa al-Dukhan yang membahas persoalan minum kopi dan merokok dari segi hukum Islam. Sedangkan dikalangan Kaum Abangan, meminum Kopi lebih populer dibanding Teh karena dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap Kaum Priyayi yang menindas.








Comments