top of page

SEJARAH KOPI, PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA & KEMERDEKAAN INDONESIA

  • Mar 13, 2017
  • 5 min read

Sejarah Kopi dan ke-Nusantaraan adalah hal yang tak terpisahkan. Sebab pada mulanya bangsa-bangsa dari anak benua India, Arab, Eropa berdatangan ke Nusantara karena perburuan rempah-rempah. Mereka tak hanya datang untuk berdagang atau merompak saja, tetapi sebagian tinggal membangun peradaban baru. Agama-agama besar seperti Hindu, Budha, dan Islam berkembang karena aspek perdagangan ini. Dan ketika komoditas perdagangan mulai bergeser dari rempah-rempah hutan menjadi industri perkebunan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial, perlahan-lahan arah peradaban juga bergeser. Nusantara yang awalnya merupakan federasi kerajaan dibawah kuasa para kolonial memerdekakan diri dan berubah menjadi nation-state bernama Indonesia melalui serangkaian panjang pergolakan.

Tanaman kopi sudah dikenal sejak tahun 1000 Sebelum Masehi, diperkenalkan oleh suku Galla di Afrika Timur. Pada era Yunani kopi juga sudah dikenal oleh masyarakat Athena secara ‘sembunyi-sembunyi’. Orang-orang Yunani pada waktu itu menganggap biji kopi adalah sebuah batu, karena itu mereka menyebutnya “Black Stone”. Beberapa filsuf seperti Demokritos dan Socrates, dikenal menyukai kopi dan memiliki perkumpulan rahasia di sebuah warung kopi di sekitar Athena. Dari perkumpulan-perkumpulan rahasia inilah berbagai aliran pemikiran filsafat berkembang.

Kopi menjadi populer di dunia baru abad ke 7 hingga 9 Masehi, setelah para pedagang Arab mulai menjadikan biji-biji kopi sebagai komoditas penting dalam perdagangan. Beberapa literatur seperti kitab Al Qanun fi Al-tib karya Ibnu Sina (980-1037M) telah pula membahas manfaat kopi secara “kimiawi” untuk tujuan pengobatan.

Ulama lain pada abad pertengahan yakni Syeikh Abd-Al-Qadir Al-Jaziri dalam kitabnya Umdat Al-Safwa fi Hill Al Qahwa (Argumen Penggunaan Kopi) juga menceritakan dengan sangat detail penyebaran kopi keseluruhan dunia. Mula-mula kopi dibawa oleh para siswa Al-Azhar berkebangsaan Yaman untuk meningkatkan stamina mereka dalam muthalaah (belajar dan beribadah). Meminum kopi dengan takaran yang pas konon membuat jadi fokus, mudah menghafal dan semakin kritis. Dari para santri Al Azhar itulah kopi menjadi sangat populer di Mesir.

Kitab yang dipublikasikan tahun 1578 tentang sejarah, pembuatan, penggunaan, keutamaan, dan manfaat dari minum kopi tersebut sering dijadikan rujukan penting tentang hukum meminum kopi. Kalangan Sufipun sering meminumnya agar lebih khusyuk dalam berzikir. Para penyair meminumnya agar mendapatkan inspirasi dalam mengolah kata. Kedai-kedai kopi selalu ramai oleh perdebatan dan gelak tawa. Setelah kopi menjadi populer di Makkah dan Madinah, para peziarah dan pedagang menyebarkan kopi ke seluruh pelosok dunia, termasuk ke Nusantara.

Sebelum sampai ke Nusantara, Kopi lebih dahulu populer di Turki. Pada tahun 1475 kedai kopi bernama Kovi Han pertama kali hadir di kota Istanbul (konstantinopel). Dari Istanbul, kopi mulai memasuki Eropa secara diam-diam dan menjadi sangat populer dikalangan rabelis (seniman, filsuf, pemberontak). Sehingga pada tahun 1600 M Paus Clement VIII, sempat mengharamkan kopi yang dianggapnya sebagai ‘budaya luar’ yang dapat mengancam (infidel) dan karena itu berdosa bagi yang meminumnya. Di sisi lain alasan sebenarnya lebih terkait dengan ancaman ekspansi budaya Arab yang lebih kosmopolit diabad pertengahan tersebut, serta kekhawatiran secara ekonomi akan menggeser perdagangan Wine serta beer yang dikendalikan para konglomerasi lingkaran gereja. Namun tidak semua negara di Eropa setuju dengan pendapat Paus Clement tersebut.

Pada tahun 1616, beberapa kapal mengangkut biji-biji kopi dari Mocha (Yaman) bertolak ke Belanda. Eropapun mulai bersimbah kopi. Tidak mau ketinggalan, Inggris juga mulai memesan biji-biji kopi dalam jumlah besar dari Yaman dan Mesir. Pada tahun 1675 M Raja Charles II menutup seluruh kedai kopi di London, tuduhan utamanya adalah kedai kopi sebagai tempat pemufakatan makar. Namun perdagangan kopi tidak bisa lagi dibendung sebab hampir seluruh pedagang besar di eropa merasa diuntungkan dengan adanya perdagangan Kopi ini. Akhirnya Vatikan-pun mencabut titahnya dan merehabilitasi budaya minum kopi dengan mengatakan bahwa minum kopi bagus untuk keluarga Kristen.

Sejarah Kopi di Nusantara dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Sosial-Budaya

Bisa dipastikan bahwa biji-biji kopi sudah masuk ke Nusantara sekitar abad ke 11-12 Masehi berbarengan dengan masuknya para pedagang dan Imigran Arab ke Nusantara. Namun tanaman kopi sendiri baru dikembangkan sekitar abad ke 16, terutama setelah beberapa kerajaan berhasil di Islamkan dan para pedagang serta mubaligh leluasa keluar-masuk ke wilayah pedalaman. Karena itu proses penanaman kopi juga sering dikaitkan dengan proses Islamisasi di wilayah pedalaman Nusantara.

Pada mulanya, orang-orang Arab hanya tinggal di kota-kota pesisir dan hanya menunggu pengiriman hasil alam dari wilayah pedalaman. Perlahan tapi pasti hubungan pesisiran dan pedalaman terjalin semakin intens. Orang-orang arab mulai memperkenalkan beberapa komoditas yang sedang trend dipasaran internasional. Salah satunya adalah Kopi yang merupakan tanaman dataran tinggi. Masyarakat-pun mulai gencar menanamnya. Sejak penanaman kopi mulai masif, hubungan antara pesisir dan pedalaman menjadi sangat intens. Banyak anak-anak dari kepala suku, tuan tanah lokal, bangsawan, yang dididik secara Islam dan ketika akhirnya para petani menjadi makmur karena perdagangan kopi yang meningkat, banyak dari mereka dikirim belajar ke kota-kota besar hingga ke Arabia. Mereka itulah yang kemudian dikenal sebagai Kaum Santri dan menjadi ulama-ulama hebat seperti Syeikh Zainuddin Al Tepali dari Sumbawa dll.

Sejak penanaman kopi begitu masif, beberapa komoditas rempah alam mulai tergeser. Pada th 1800 pemerintah kolonial akhirnya secara resmi menutup VOC sebagai perusahaan yang memegang monopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah jajahan, dan memulai membuat perkebunan-perkebunan besar yang tersentral di Pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Era inilah yang menandai masa peralihan moda kolonialisme dari ekonomi rempah-rempah menuju Ekonomi berbasis industri perkebunan.

Proses pembangunan Industri perkebunan memang sudah dirancang sejak jaman Van Inhoff berkuasa tahun 1750-an, namun sangat masif dilakukan ketika Perancis melalui Gubernur Deandels berkuasa. Deandels-pun bergiat membangun jalan trans Anyer-Panarukan atau dikenal dengan jalan raya pos, untuk memudahkan pengangkutan hasil alam dari perkebunan-perkebunan di wilayah pedalaman Jawa. Untuk membangun infrastruktur yang sangat besar tersebut, dikerahkanlah tenaga kerja dari Indonesia Timur. Banyak pemuda-pemudi yang ditangkap untuk dijadikan budak dan sebagian besar ditampung di Batavia. Alih-alih mengembangkan sektor perkebunan, perdagangan budak saat itu justru dianggap lebih menguntungkan. Di Tahun 1790-1810, Batavia-pun menjadi pasar budak terbesar di dunia. Budak-budak dari Batavia dikirim ke Sri Lanka, Afrika, hingga ke Amerika.

Pada tahun 1811, kekuasaan Perancis diNusantara dikalahkan oleh Inggris yang menempatkan Letnan Gubernur Raffles sebagai penguasa di Batavia. Rafles menerapkan kebijakan untuk menghapus perbudakan, sehingga pembangunan perkebunan sempat terhenti. Meletusnya gunung Tambora di pulau sumbawa pada th 1815 di susul dengan meletusnya gunung Merapi (1822) yg menandai di mulainya Perang Jawa (Diponegoro 1825-1830) semakin memperburuk keadaan. Para Bangsawan di Jawa banyak yang berkeberatan ketika tanahnya dicaplok untuk pembangunan infrastruktur dan perkebunan. Sementara di Sumatera, para bangsawan yang memilih bekerjasama dengan pihak kolonial berhadapan dengan kaum Paderi.

Pemerintah kolonial sendiri Baru serius kembali menanam kopi pada pertengahan abad ke 19 setelah beberapa pemberontakan penting berhasil dipadamkan. Jalan-jalan penghubung yg dibangun sejak era Deandels juga mulai diperbaiki serta dilengkapi jalur kereta api. Akibat perluasan wilayah pengembangan industri perkebunan ini banyak para bangsawan yang di’preteli’, tanahnya dicaplok dan gelarnya dicopot. Para ulama dan kaum santri banyak pula yang ditangkap dan dipenjarakan.

Pemerintah kolonial juga menerapkan sistem tanam paksa untuk menutup hutang akibat perang berkepanjangan.Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) tersebut, pemerintah Belanda membuka perkebunan komersial tak hanya di pulau Jawa, tetapi juga meliputi pulau Sumatera, Sulawesi dan sebahagian Indonesia Timur. Dengan menerapkan prinsip Nicolaas Witsen,"Biji boleh sama tapi jika ditanam ditempat berbeda hasilnya juga akan berbeda-beda", Belanda mulai mendatangkan biji-benih kopi terbaik dari Yaman dan mulai intens menanam kopi di Mandailing dan sidikalang di Sumatera, Tana Toraja-Sulawesi, Sekitar Bondowoso Jawa timur Hingga ke Flores-NTT.

Sementara wilayah pedalaman ditanami kopi dan teh, wilayah pesisiran di tanami tebu & didirikan pabrik gula. Rakyat kebanyakan juga mulai dimobilisir untuk menjadi buruh-buruh murah di perkebunan-perkebunan milik Belanda. Dengan cepat ekonomi pemerintah Jajahan mulai pulih. Wilayah Jawa yang sebelumnya lebih terbelakang dibanding wilayah Timur Nusantara, berkembang pesat dan menjadi kosmopolit.

Belanda mulai mengurangi tekanan dan menerapkan politik balas budi. Sekolah-sekolah untuk kaum pribumi mulai dirikan yang sebenarnya untuk menyokong kekurangan tenaga kerja terdidik di daerah-daerah perkebunan dan sektor industri lainnya. Pada era politik balas Budi tersebut, banyak anak-anak muda dari seluruh nusantara menempuh pendidikan di Jawa. Merekalah yang kemudian disebut Kaum Priyayi sebagai pengganti feodal lama. Kaum terdidik pribumi inilah yang kelak merancang kemerdekaan Indonesia.

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page