top of page

KALONDO LOPI Di GUNUNG SANGIANG API

  • Oct 9, 2016
  • 2 min read

Jadi begini lho Mas Bro...Indonesia itu bukan hanya Ahok & Jakarta. Kita punya 17.000 pulau yg harus diurusin. Bicara muluk2 soal visi kemaritiman dll, ini lho ada orang Bima bikin kapal Phinisi keren.

Apa hebatnya? Bagi saya ini mahakarya yang sangat dasyat. Bayangkan, untuk membuat kapal sebesar ini, tidak perlu pakai gambar, sketsa, apalagi blueprint. Semua dikerjakan berdasarkan ilmu pengetahuan tradisional yang diperoleh turun temurun dan semua prosesnya dilakukan secara manual bergotongroyong oleh orang-orang kampung di Gunung Sangeang Api. Dibutuhkan sekitar 700m kibik kayu ulin kualitas super dengan waktu pengerjaan sekitar 3,5 tahun dan pembiayaannya sekitar 7 milyar.

Kenapa lama? Tentu saja alasan bahan baku (kayu berkualitas) yang menjadi masalah utamanya. Kayunya ada. Regulasinya yang rumit. Begitulah selalu masalah negeri ini. Yang yang pokok dibikin susah, yang remeh diributin. Padahal kita ini negeri maritim, untuk menghubungkan 17.000 pulau itu jelas diperlukan buanyak sekali kapal. Dan tak mungkin semua diselesaikan oleh pemerintah melalui Pelni. So, Pelra alias pelayaran rakyat mestinya jadi solusi. Nggak perlu nunggu PT PAL berkembang jadi perusahaan super raksasa atau mikir import kapal bekas dari LN. Cukup berdayakan masyarakat yang memang sudah memiliki tradisi mendarah daging dalam pembuatan kapal. Dan setahu saya, dari Aceh Hingga Papua banyak daerah yang memiliki kemampuan membuat kapal tradisional tersebut. Salah satunya ada di Gunung Sangiang Api ini.

Tahukah anda jika Gunung Sangiang Api itu memiliki sejarah yg sangat penting untuk dunia kemaritiman kita? Jauuuhhh sebelum Singapore yg dulunya bernama Tumasik itu berkembang sebagai bandar laut terbesar didunia seperti sekarang ini, Pulau Sangiang Api telah mjd tempat pertemuan para saudagar seluruh dunia. Selain catatan beberapa pelaut abad ke 15 seperti Tomee Pires, pada Kitab Negara Kertagama telah pula merekamnya. Jika relief kapal di candi Borobudur yang dibuat sebelum abad ke 10 bisa bicara mungkin juga akan menyebut pulau ini.

Kenapa? Sebab sejak dunia pelayaran dan perburuan rempah-rempah berkembang sebelum abad ke 1 Masehipun, semua kapal yg akan menuju pulau rempah (Sulawesi-Maluku-Halmahera) harus lewat singgah dipulau ini. Itu dibuktikan dengan temuan sebuah Nekara kuno sekitar abad ke 5 Masehi.

Ya. Hari ini Pulau Gunung Berapi Sangiang Api memang tidak berpenghuni selain kerbau, sapi dan para pembuat kapal paruh waktu. Mungkin karena itu keberadaan pulau inipun dilupakan. Pantas saja dalam acara Kalondo Lopi yg bersejarah ini, saya tak melihat orang-orang dari instansi terkait semisal dinas kelautan atau perhubungan di Kab Bima dan Propinsi NTB yang datang untuk sekedar menengoknya. Sayang sekali bukan?

Syruuuppuuttt sajalah...

;)

 
 
 

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page