top of page

INDONESIA DARURAT SAWIT

  • Jan 1, 2016
  • 2 min read

Sore ini sedianya saya akan langsung kembali ke Banda Aceh. Tapi nasib mengatakan lain. Sama seperti kemarin, terpaksa penyeberangan kembali ditunda esok pag.karena cuaca buruk Waahhh siap-siap berkelahi dg nyamuk & angin malam lagi neh. Tak mengapa. Itu sama sekali tak merisaukan saya. Sabang cukup indah & menarik. Ada byk waktu untuk sekedar berkeliling ke kampung sekitar pelabuhan atau apalah apalah.

Jika ada hal yang paling membuat saya terus kepikiran & merasa sangat geram selama perjalanan ke Sumatera ini, tentu saja itu pastilah soal SAWIT. Sepanjang perjalanan dari Lampung hingga titik nol, yg terlihat hanya sawit, sawit dan sawit. Itu sungguh membosankan dan merobek-robek nurani saya. Betapa tidak, sawit itu tumbuhan jahat. Sebagai tanaman gurun ia tidak hanya menghabiskan zat hara tanah paling besar, tetapi penanamannya secara masif juga memberangus habitat yang lain, yang secara ekosistem sangat diperlukan oleh lingkungan hidup kita. Beragam flora & fauna hilang. Berapa ribu mata air yg sirna? Saya yakin, para pecinta alam maupun tentara yg paling jago survival sekalipun akan tersesat dan mati kelaparan jika lepas ditengah perkebunan sawit.

Saya sungguh tidak mengerti, kenapa Indonesia menerima penetrasi corporasi multinasional utk menanam sawit ini secara sangat masif? Sejak penanaman sawit mulai digalakkan, marak terjadi pembalakan, bencana asap, pengusiran thd komunitas adat hingga konflik sosial berkepanjangan.

Tak hanya itu, sebagai tanaman monokultur sawit juga merubah perilaku manusia dan kebudayaan. Cara hidup dan cara pandang yang seragam, hingga ekspresi kebudayaan yg monoton pulak.

Masyarakat yg hidup di lingkar sawit akan memiliki kecenderungan mjd sangat tergantung pada sesuatu diluar lingkungannya, diluar batas kemampuan hidupnya. Sebab sawit tidak bisa di konsumsi, tidak bisa dimakan, tidak bisa dierjual belikan dipasar tradisional maupun modern secara langsung. Menanam sawit, hanya menciptakan ketergantungan saja. Masyarakat dibikin konsumtif sehingga banyak utang, dengan cara itu mereka akan gampang dikendalikan. Oleh siapa? Tentu saja para rente sawit.

Bagi saya, sawit adalah bencana terbesar kehidupan. Sungguh ini akan menjadi ancaman nyata. Semoga masih ada kesempatan utk memperbaikinya. Stop terlalu banyak sawit.

Syruuuppuutt soree...

 
 
 

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page