top of page

KEKUASAAN, KEGILAAN & RASA MANUSIA KITA

  • Mar 9, 2017
  • 4 min read

Sebagai seorang penyuka seni, kadang saya sangat merindukan sesuatu yang berbau“kegilaan”. Sesuatu yang membuat kita melihat kenyataan dengan nalar utuh, jernih, tidak dengan pikiran normatif haka lurus-lurus saja. Yups, bukankah kenyataan itu sebenarnya sangat unik, beragam dan penuh dengan kejutan (baca ; kekacauan)? Moral adalah siasat menyembunyikan "kebrobrokan" diri para durjana. Para pengkhutbah biasa mengatakannya dengan berbusa-busa, bukan? Etika? Itu hanya basa-basi pergaulan untuk menjaga harmoni sesama pembohong, pengecut dan penipu. Dan ketika harmoni itu terlalu kaku, lamban, beku serta membosankan maka saatnya dicairkan kembali dengan “darah” makar.

Itulah yang saya rasakan ketika menonton film Korea, The Treacherous (2015). Film yang mengisahkan kegilaan Pangeran Yeonsan ketika membalas dendam kematian ibunya dengan cara yang sangat sarkastis segera setelah ia mencapai kekuasaan. Ia menghancurkan musuh-musuhnya dengan cara mengumpulkan seluruh perempuan yang dicintai musuhnya tersebut untuk ‘dinodai’ di depan matanya. Sebuah akrobat balas dendam yang sangat keji tentu saja. Dengan cara itu Yeonsan seakan ingin menunjukkan betapa hebatnya kekuasaan yang dimilikinya itu. Bahkan untuk menguji kekuasaannya, Ia sering berburu ke desa-desa dan ketika bertemu perempuan cantik langsung saja melampiaskan hasratnya, tak peduli itu istri,ibu, atau anak siapa dan sedang apa bersama siapa.

Apa yang dilakukan Raja Korea awal Abad ke 15 itu hampir sama dengan hukum "Primanokhtah" yang pernah diberlakukan saat Inggris menjajah Scootlandia pada abad 13, dimana setiap bangsawan Inggris berhak menikmati malam pertama setiap pasangan pengantin Scottish yang menikah. Maka lahirlah pahlawan pemberontak semacam William Wallace yang legendaris itu dan dikisahkan secara apik oleh Mel Gibson dalam film "Brave Heart".

Sebagaimana para raja dalam berbagai tradisi, Yeonsan juga memiliki banyak gundik. Atas saran Im Soong Jae-sahabatnya sewaktu kecil yang menjadi tangan kanannya, Yeonsan juga memerintahkan para pegawai kerajaan untuk mengumpulkan semua perempuan tercantik di negerinya hingga akhirnya terkoleksi sekitar 10.000 orang. Mereka dididik, dilatih dengan ketrampilan khusus untuk menjadi pemuas nafsu sang raja. Yang terbaik akan dijadikan Permaaisuri, selebihnya dijadikan selir atau dibuang sebagai budak. Tindakannya itu tak ayal membuat rakyat murka, dan para bangsawan-pun bersekongkol melakukan pemberontakan hingga akhirnya sang raja terguling.

Film berlatar sejarah korea dari dinasti Joseon ke sepuluh yang berkuasa antara tahun1494–1506 ini, tak hanya mengingatkan betapa rakus dan kejamnya kekuasaan itu, tetapi dalam batas tertentu kekuasaan juga menyimpan kegilaannya tersendiri, ketika sang penguasa dalam nalar monarki absolut dan teokratis sudah merasa sebagai raja diraja yang memiliki kekuasaan tanpa batas. Ia tak hanya menjadi wakil Tuhan bahkan sudah merasa menjadi ‘Tuhan’ itu sendiri. jika semua hal sudah terpenuhi, maka gairah, hasrat seperti apalagi yang diinginkannya selain melawan kemustahilan itu sendiri?

Menonton film ‘erotis’ dengan tata gerak (koreografi) yang sangat indah tersebut, sepintas kita seperti diingatkan kisah Kaisar Caligula dalam drama klasikal-nya Albert Camus. Kegilaan Caligula, Kaisar Romawi yang mencintai dan menikahi adik kandungnya sendiri serta menginginkan hidup abadi itu, seakan membuka seluruh kedok tentang hasrat dan nalar kekuasaan itu sendiri. Kitapun sering bertanya-tanya, nalar seperti apa yang membuat seorang penguasa bisa melakukan tindakan sangat gila bahkan jelas-jelas bisa menumbangkan kekuasaannya sendiri? Caligula misalnya, membuat ketetapan-ketetapan yang tidak wajar, seperti untuk menutup kas negara yang kosong ia memerintahkan setiap pria agar datang ke tempat-tempat pelacuran nasional yang ia buat. Dari situlah ia menguras seluruh harta warganya sendiri untuk membiayai pesta-pesta hedon yang ia selenggarakan.

Kekuasaan dan kegilaan, bukankah keduanya memang sangat melekat sebagai bentuk Absurditas hidup seperti disampaikan Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus? Orang rela melakukan apa saja demi berkuasa, dan setelah ia mencapai puncak kekuasaan segera ia akan merasa kesepian, sendiri dan hampa hingga tak ada lagi yang bisa dirasakan. Hanya kegilaan, ya, kegilaanlah yang membuat seseorang merasa ada dan berarti bagi dirinya. Disisi lain, kegilaan tentu juga akan menjerumuskan pada kehancuran.

Mungkin karena menyadari hukum silogisme kekuasaan tersebut, banyak tindakan makar yang justru diarahkan untuk membutakan ‘nalar’ kekuasaan agar semakin menggila, diruncingkan sekalian supaya kejatuhannya bisa dipercepat dan jalan revolusi-pun bisa dilempangkan. Itulah juga yang dilakukan oleh Marquiz de Sade dengan novel dan karya-karya sarkartis lainnya menjelang pecahnya Revolusi Perancis abad 18. Konon ia rajin menyebarkan stensilan cabul, cerita horor, kriminal serta kehidupan menyimpang para bangsawan penguasa di Perancis untuk membuat chaos keadaan sehingga jalan revolusi semakin mudah untuk ditapaki (Intrik tsb dalam film ini mirip seperti yang dilakukan Im Soong Jae ketika menjerumuskan Yeonsan hingga mencapai kehancurannya).

Keyakinan patologial seperti itu jugalah yang bisa jadi setengah abad kemudian membuat Karl Marx sangat yakin bahwa pada akhirnya kapitalisme~yang dipercaya mewakili spirit borjuasi yang begitu korup dan mengasingkan manusia dari dirinya sendiri~ itu akan membunuh dirinya sendiri dan kita akan menemukan akhir zaman bernama sosialisme. Lantas apalah guna gelora revolusi, menumbangkan kekuasaan lama dan mengantikannya dengan kekuasaan baru jika kediktatoran masih mencengkeram erat (meskipun berbungkus Proletariat) sementara gambaran kekuasaan revolusioner itu juga sangat muram seperti dalam Novel 'DR. Zivago'-nya Boris Pasternak yang berkisah tentang revolusi Bolsevick atau 'Angsa-angsa liar'-nya Jun Chang yang melihat sisi gelap Revolusi Kebudayaan ala China?

Atau memang sudah watak kekuasaan itu sendiri akan terus membuat siapapun~pribadi maupun kelompok~ yang duduk dikursinya maka bersiaplah kehilangan diri? Sebagian kita mungkin akan berdiri apatis memandang roda gila dialektika "Jang sesoenggoehnya" dimana sejarah hanyalah roda yang berputar dalam poros yang sama dan tak berubah. Dalam film produksi korea yang digarap oleh sutradara handal Min Kyu-dong itu diceritakan bahwa tumbangnya Raja Yeonsan justru memberi jalan bagi kekuasaan yang lebih korup, bedanya itu tidak dilakukan oleh satu orang berpredikat raja, tetapi oleh para bangsawan yang mengendalikan kekuasaan raja baru. Mereka melakukannya secara berjamaah alias rame-rame, dan rakyat tetap menjadi korban utamanya. Jadi kepikiran pasca reformasi 1998 di Indonesia hingga hari ini. Hehe...Ampyuunnn deh Kak Emma.

Syruuuppuuttt-syruuppuutt...Tp swear, film ini keren bingitz. ;) :D :p

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page