NAVIGASI BURUNG-BURUNG & PERADABAN KITA
- May 1, 2016
- 2 min read

Dua tahun yllu saya pernah diajak Bang Andy Arief beserta rombongan presiden SBY ke Gunung Padang di Cianjur Jawabarat. Banyak spekulasi yang berkembang tentang situs yang dipercaya sebagai petilasan/tempat moksanya prabu siliwangi itu. Menurut uji carbondating dr sebuah labolatorium di Miami-Florida, susunan batu dlm situs tsb termasuk yang tertua dimuka bumi, umurnya antara 6000-12.000 tahun sebelum masehi, jauuh lebih tua dari piramida giza maupun Machupicu.
Terlepas segala spekulasi ilmu pengetahuan tersebut, jejak-jejak peradaban "batu" sesungguhnya masih sangat mudah kita jumpai dalam tradisi nusantara, khususnya di Indonesia Timur. Seperti perkampungan Saga ini misalnya.
Menurut cerita lisan turun temurun dan beberapa artefak yang terukir di dinding rumah adat, konon nenek moyang orang Saga ini datang dari Lautan. Mereka mendarat di Masedale, lalu membuat perkampungan. Karena berbagai situasi, merekapun berpindah-pindah tempat. Hingga tujuh perkampungan mereka bangun sebelum sampai di tempat indah, subur dan makmur ini. Semuanya harus dilewati dengan serangkaian peperangan dan perjuangan berdarah-darah.
Salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah banyaknya relief burung-burung di rumah orang2 Saga. Mereka percaya sampai ditempat ini karena dibimbing oleh burung suci. Bahkan burung-burung itu ikut membantu masyarakat membangun perkampungan. Konon burung-burung itu yang membongkar batu-batu dari atas tebing. Sayapun jadi teringat cerita yang hampir sama, tentang mitos burung gagak putih yang dianggap suci oleh orang Sembalun di Lembah Gunung Rinjani.

Ya, migrasi dan navigasi burung-burung itu sangat penting utk menilik peradaban manusia dulu & sekarang. Bukan hanya dalam ilmu biologi/ekologi/dyndrologi modern, dunia penerbangan, bahkan dalam ilmu kemiliteran modern itu menjadi kajian yang sangat penting. Sebab konon, tentara sekutu menemukan tempat persembunuian Osama Bin Ladin karena mereka memantau jalur migrasi burung-burung. Dan jauuuhhh sebelum itu nenek moyang kita telah akrab dengan ilmu navigasi tersebut.
Sayangnya kian hari, burung-burung ini semakin jarang kita temui dalam kehidupan nyata. Selain diburu orang2 ber-otak batu yang sok jadi penembak jitu, ruang/habitat alamiah mereka jg sdh sangat menyempit sejak hutan dan pohon2 ditebangi. Pun penggunaan zat kimia berlebihan dan berpotensi merusak alam. Tapi saya suka tadi pagi para Mosalaki di Saga mulai berbicara tentang hutan adat yang mulai rusak, debit air terjun yang berkurang dan pentingnya menanam pohon tertentu yang berfungsi sebagai pelindung mata air agar kehidupan semakin lestari.
Syruuuppuuuttt soreehh... Kabut mulai turun di desa Saga. Saatnya me-Ngaji alam raya.









Comments