top of page

THE LAST HUNTERS OF FRITU MAN

  • May 1, 2016
  • 2 min read

Beberapa hari ini saya mengunjungi komunitas adat Fritu di daerah Sagea-Halmahera Tengah. Berhubung si Bejo msh sakit sayapun meminjam motor kawan + sewa motor tukang ojek di Sofifi. Akses jalan dari Sofifi ke Weda, ibu kota kabupaten sepanjang 80 km sudah cukup bagus. Begitu memasuki kecamatan Weda Utara hingga ke kampung Fritu jalanan masih berupa batu disusun dan tanah becek melintasi hutan sehingga perjalan sepanjang 40km tsb harus kami tempuh sekitar 3,5 jam bergulat dengan bahaya. Beberapa tanjakan dan turunan sangat ekstreme dn licin. Anggrek liar tumbuh sepanjang jalan, sesekali burung kakak tua, elang dan ular melintas di jalan.

Menurut ceritera, orang-orang Fritu merupakan suku pendatang dari Tobelo Boeng yang konon berprofesi sebagai pembunuh bayaran, perompak atau bajak laut. Suatu ketika mereka dikejar-kejar tentara belanda sehingga lari sembunyi dan diterima oleh suku Sawai yang tinggal di bantaran sungai Sagea. Mereka melanjutkan hidup sebagai pemburu binatang dihutan. Lama-lama komunitas ini semakin berkembang. Orang-orang Sagea yg umumnya sdh menganut agama Islam agak terganggu oleh pola hidup mereka yang suka makan babi. Karena itu mereka diberi area khusus, semacam tanah perdikan disebelah timur Sagea.

Selama lebih dari 4 generasi mereka melanjutkan hidup sebagai pemburu dan mengembangkan ilmu khusus utk itu. Dalam tradisi masyarakat Fritu, meskipun mereka kini telah menganut ajaran kristen, banyak sekali Difongo/ritus adat yang terkait dengan dunia perburuan. Seperti dituturkan oleh Arkhipus Kore (45) yang didaulat menjadi kepala Klan Kore oleh para Tetua, utk berburu banyak sekali ritual adat yang harus dilaksanakan. Dari tata cara merawat dan menggunakan senjata (tombak, parang, pisau dll) hingga tatacara terkait dengan binatang buruan dst. Begitu juga ketika mereka akan memasuki hutan, ada wilayah-wilayah tertentu yang tidak boleh dilewati. Dibeberapa tempat keramat juga harus membaca mantera-mantera khusus, yang intinya adalah untuk memohon izin, juga demi menjaga keselarasan alam tempat mereka bergantung hidup.

Selain dikenal sebagai desa pembuat senjata, khususnya alat berburu terbaik di Halmahera, komunitas ini juga menaruh hormat yang sangat dalam terhadap anjing. Mereka menyebutnya O' Kaho. Mereka memiliki ramuan dan mantera-mantera khusus agar anjing mereka jadi pemberani, mampu berlari kencang dan lbh peka melacak binatang buruan.

Banyak sekali kepercayaan/ perlakuan khusus terhadap anjing ini, bahkan boleh dibilang anjing adalah binatang suci bagi mereka. "Anjing itu setia. Dorang rela nyawa ilang untuk torang, deng dorang punya kepekaan khusus tara sama deng makhluk laeng.”

Kini keberadaan mereka terancam oleh keberadaan perusahaan-perusahaan tambang-khususnya perusahaan nikel dari Perancis-yang seenaknya membabat hutan dan menghancurkan alam. Mereka digusur dari habitat alamiahnya. "Dorang paksa pa torang malaut. Sedang Torang tara tau pegang nilon deng gumala, " Kata Arkhipus kore.

Hal itu juga dibenarkan para tetua. Selain berburu rusa, babi hutan dan ular besar, mereka juga biasa menokok sagu (bahalo), memetik Pala, Damar, memanen buah langsa hutan dan hasil hutan lainnya. Kini ruang hidup mereka semakin terancam. Diluar persoalan terkait dengan kebutuhan hidup, harkat, martabat dan pandangan hidup batin mereka juga terancam berakhir. Halmahera yang indah, akan segara karam oleh Tambang dan sawit.

Syruuppuutt malam...selalu ada ironi dlm kehidupan. Dan mereka yang setia menjaga kehidupan, tak sepantasnya terpinggirkan.

:(

 
 
 

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page