KEDAI TUAK & PIKIRAN REVOLUSI
- Mar 1, 2016
- 9 min read
Kisah Guru Dane, seorang pendekar dari Lombok
Aku mabuk, aku sedih; aku hilang diri, jangan kutuk aku, jangan laknat;
Aku bangkit dan jatuh. Lihat, tapi jangan ceritakan ini pada siapapun.
O, pengenal Tuhan yang hilang diri! Jangan salahkan Sang Pencipta.
Aku pergi setengah gila dari rumah ke rumah, kampong ke kampong, kota ke kota.
Ambil cawan ini, ambil! Cabutlah pengakuan atasku sebagai pembawa Cawan Cinta
……………….
Aku mabuk anggur yang dilarang oleh polisi itu
Aku mabuk anggur Tauhid, aku bebas dari warna dan bau
Aku betah tinggal disini, ditempat lain dalam jiwa
………….
~Dari Diwan Syamsi Tabriz, Karya Jalaludin Rumi

Duduk di beranda pantai Ampenan, dengan sebotol tuak jenis punik dan keremangan senja yang semakin mengental, entah mengapa, pikiran saya tertuju pada sebuah sosok asing, jauh di masa lalu. Guru Dane. Ya, ia yang mengobarkan perlawanan kepada kompeni dan antek-anteknya pada awal tahun 1900-an, di tanah ini, di negeri Sasak. Pada moment seperti ini, mungkin ada satu garis yang menghubungkan pikiran saya kepadanya, bahwa gerakan revolusionernya dimulai dari sebuah tempat remang-remang, Kedai Tuak! Sayang hal itu tidak terekam dengan baik di novelnya Salman Faris, dan hanya sekilas melintas dalam bukunya Alfons Van der Kraan yang menghebohkan itu.
Mengapa Tuak? Pertanyaan seperti itu melintas begitu saja dalam benak saya, meskipun Tuak atau minuman beralkohol, atau candu, memiliki genealogi yang cukup panjang. Konon hampir semua peradaban pernah menggunakannya, untuk ritual keagamaan atau ritus penyembuhan (pengobatan). Jauh sebelum agama kristen menggunakannya secara resmi sebagai analogi darah kristus dalam perjamuan Kudus, 20 Abad sebelum Masehi Bangsa Persia telah mengenal Opium untuk kegiatan keagamaan mereka. Orang-orang Inca dan Suku Maya dipedalaman Amerika menemukan Kokain, sebuah zat yang diproduksi dari getah pohon Koka (sejenis cokelat). Para Yogin dan kaum Samana di India, tibet dan gurun Mongolia menggunakan asap dari pembakaran marijuana untuk sampai ke "nirvana". Sementara, orang-orang di Mesir dan Asia Kecil menyulingnya dari gandum dan kurma yang membusuk untuk meramaikan pesta-pesta. Orang-orang di dataran tinggi Eropa menemukannya dalam cairan buah anggur dan menjadikannya minuman pengusir dingin. Orang Arab menyebut minuman jenis beginian sebagai Khammar, dan itu jelas haram.
Tetapi jauh sebelum ia diharamkan, pasukan muslim menenggaknya ketika akan berangkat kepertempuran. Konon itu cukup membantu membangkitkan keberanian para prajurit. Hal tersebut rupanya juga diketahui oleh pihak musuh, orang-orang kafir quraish. Lalu mereka, orang-orang quraish itu, meng-embargo peredaran Khammar. Beberapa orang yang “kecanduan” dan termakan mitos keberanian yang menguap dari botol-botol khammer itu sempat lesu darah. Mereka kelimpungan, dan berani membayar berapapun untuk sekedar mendapatkan khammar. Situasi itu jelas menimbulkan suasana yang tidak sehat. Nabipun sangat prihatin tapi tidak bisa berbuat banyak. Sampai ayat yang legendaries itu turun. Perintahnya jelas, jika yang banyak itu memabukkan maka sedikit saja juga haram hukumnya. Selesai.
Saya tak hendak memperdebatkan soal halal-haram dalam kaitan khammar itu. Selain saya tidak begitu menguasai Ushul-fiqh, mungkin saya termasuk golongan yang cukup liberal dalam hal beragama (tapi saya bukan anggota JIL, lho xixi). Karena itu, mungkin saya akan lebih memilih pendekatan semiotic (althusserian) dalam hal ini. Terutama untuk membaca semiotika tingkat kedua tentang apa kaitan Tuak dengan pikiran “revolusi” itu?
Tuak, khammer, Ganja, berjenis-jenis Narkoba atau apapun yang memabukkan itu, biasa dikonsumsi orang terutama untuk membangkitkan fantasi tertentu. Semacam rasa kesenangan yang bersifat psikis. Dalam ilmu kimia atau kedokteran, terdapat semacam zat adictif yang bekerja dan mempengaruhi pikiran. Syaraf-syaraf tertentu menjadi relaks. Bahkan zat-zat tertentu tersebut mensuplay semacam hormon yang sanggup menimbulkan effek halusinasi atau mabuk. Tak heran pula jika kalangan sufi sering menggunakan Anggur, atau Mabuk ini sebagai analogi atas situasi psikologis tertentu seperti mabuk Tuhan.
Siapapun tahu jika penggunaan alkhohol atau zat-zat lain ini sifatnya hanyalah pengalihan atau penyilapan, terutama untuk menekan rasa kepedihan, dan bisa menimbulkan ketergantungan akut. Dalam banyak kasus malah bisa menimbulkan kerusakan mental hingga gejala fisik yang berakibat kematian. Maka penggunaan alkhohol dan sejenisnya itu dalam segala situasinya menurut ukuran normal bisa dibaca sebagai gejala kejiwaan yang kurang sehat. Sehingga dalam konteks massif, keberadaannya selalu dikaitkan dengan rasa frustrasi social yang lebih luas. Alkhohol adalah sebuah penanda, sekaligus petanda. Dalam semiotika tingkat satu ia adalah penanda dari jiwa-jiwa yang gelisah, meradang dan sakit. Pada semiotika tingkat dua, ia bukan hanya gejala, menurut kerangka althusserian, ia menjadi petanda situasi zaman yang labil, bergolak, oleh sebab tertentu.

***
Pada sebuah berugaq di sudut-sudut remang yang diterangi obor atau kerlip lentera dari minyak kelapa, saya bayangkan saat itu Guru Dane duduk dilingkari orang-orang yang bersimbah tuak. Ada suara seruling, atau tembang-tembang pangkur, dandang gule, mas (ke)mambang, merontal dari mulut para peminum itu. Sebagian yang lain mungkin berceloteh, apa saja, mungkin juga bukan sesuatu yang penting, tetapi satu hal, mereka sedang meradang. Entah oleh sebab kesulitan hidup, atau keinginan-keinginan tak sampai. Semua itu membuncah begitu saja, sebab dalam pengaruh alcohol semua menjadi terasa ringan untuk dilepaskan. Kepala yang terasa melayang, focus dari kesadaran yang bergoyang, endapan-endapan jiwa yang selama ini teronggok seperti lumpur dalam lipatan-lipatan pikiranpun mulai mengalir. Sebagian terkendali dengan baik, sebagian besar meledak begitu saja. Tak jarang, terjadi gesekan-gesekan, juga perkelahian. Namun biasanya segera terlerai manakala pengaruh alcohol itu mulai menghilang. Dilain hari mereka akan kembali berangkulan, minum dari gelas yang sama secara bergantian, dan melupakan semua persinggungan yang pernah terjadi. Begitulah biasa saya jumpai dikedai-kedai tuak, di Ampenan, Karang Ujung, Sayang-sayang, atau dibeberapa tempat “remang-remang” seantero pulau Lombok ini. Tak terlihat, namun jelas terasa keberadaannya.
Guru Dane, mungkin ia hanya diam mendengarkan. Sesekali menimpali, sambil meresapi setiap getar kata-kata yang dibuncahkan para pemabuk itu. Ia mencari-cari setiap celah yang dilangutkan pikiran. Ada jurang menganga, di sana, dalam setiap percakapan-percakapan itu, juga kalimat-kalimat yang meluncur melebihi kecepatan angin itu. Ia hanya diam tepekur, meresapi, dan mulai menemukan simpulan-simpulan. Semacam benang merah yang tak kasat. Apa sebab bangsanya, bangsa Sasak sedemikian terhina? Apa sebab orang-orang begitu menderita?
Diawal abad 19 hingga kedatangan Belanda menjelang abad 20, menurut beberapa laporan petualang Asing semacam Hyacinthe de Bouganvile dari Prancis yang menancapkan sauhnya dipelabuhan Surabaya pada tanggal 16 September 1824--orang-orang Lombok dan Flores, banyak dijual sebagai budak. Sebagian besar ditampung di Surabaya dan Batavia, untuk diteruskan kenegeri-negeri jajahan lainnya hingga ke Amerika Tengah. Dalam penelitian literer Karl Marx-pun, perbudakan di tanah jajahan Hindia Belanda ini sangat menarik perhatiannya. Adalah Pierre Dubois seorang bangsawan kelahiran Prancis atau Walon (Belgia) yang menjadi pejabat Kolonial Belanda di Bali dari tahun 1827-1831, ia juga mencatat, bahkan sempat mengungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam tentang beberapa aspek dari perdagangan manusia atau perbudakan ini. Tetapi nasehat-nasehatnya tidak didengar, sebab sudah menjadi kelaziman, di Bali maupun di Lombok, para pemenang perang dan kasta tertentu memiliki budak yang bisa diperjual belikan.

Guru Dane, yang konon berasal dari kasta rendahan ini, darahnya mulai bergolak oleh penindasan dan rasa ketidak adilan yang merangsek ke jantung masyarakatnya. Sebagai bagian dari masyarakat terjajah, baik oleh tetangganya sendiri maupun oleh bangsa asing seperti Belanda, iapun diliputi perasaan tak berdaya yang amat sangat. Lalu ia membayangkan, sebuah masa dimana bangsanya pernah mengalami zaman keemasan. Itu jauh dimasa lalu, sesuatu atau sebuah cerita yang ia dengar dari mulut kemulut dan banyak beredar pada masa krisis seperti itu. Bahwa pernah, ada kerajaan besar, pecahan dari Majapahit yang bernama Selaparang di Lombok bagian Timur. Kerajaan itu juga akhirnya runtuh oleh perang saudara, terutama oleh serbuan Pejanggik, yang masih berkerabat. Entah oleh motif apa, mungkin perebutan kekuasaan, atau barangkali oleh hal-hal yang lebih sepele menurut ukuran sejarah seperti persoalan “perempuan” atau urusan perjodohan yang menempatkan seseorang bernama Arya Banjar Getas tampil sebagai tokoh Antagonisnya. Mungkin Guru Dane sangat mengenal cerita itu, mungkin pula ia terpaksa mengabaikannya, selain sebuah pikiran untuk mengulang kembali masa-masa keemasan yang didongengkan sejarah itu. Tetapi, bagaimana caranya?
Iapun mulai mengembangkan pikiran-pikiran politik dalam arti yang sebenarnya. Ia merangsek masuk kedalam cerita-cerita para peminum itu dan mulai mempengaruhi pikiran mereka. Ia, yang sebelumnya pernah menuntut ilmu kanuragan, dan mungkin kasepuhan, juga cukup ahli dalam olah kepandaian silat, pengobatan 'tradisional' dan sejenisnya. Orang-orang jerih, dan mulai mengaguminya. Pada batas tertentu, ia mulai menghentikan aktivitasnya dikedai-kedai minum itu, dan mulai mendirikan persekutuan yang lebih serius. Ia mulai menanamkan pengaruhnya terutama kepada kaum prawangsa keturunan Bali, sebab biasanya merekalah yang paling percaya soal-soal mistik dan keajaiban supranatural. Hal tersebut, juga dibarengi dengan sebuah kesadaran lain, bahwa persatuan antara Bali dan Sasak itu sangat penting dalam alur pemikirannya untuk membuat sebuah imperium dari cita-cita baru tersebut. Momentnya juga sangat tepat, ada musuh bersama, musuh dari semua musuh; kedatangan bangsa asing, penjajah Belanda.
Melalui cerita dari mulut ke mulut yang menyebar begitu cepat tentang kesaktian Sang Guru, orang-orang desa pun mulai banyak yang menjadi pengikutnya. Beberapa kalangan bahkan menjadi pengikut “rahasia” dan menyerahkan anak gadisnya untuk dinikahi, sebagai tanda ketakziman dan persekutuan. Hal tersebut juga menimbulkan persoalan tersendiri, bahwa gerakannya dianggap menyaingi kewibawaan para kepala kampung atau para bangsawan yang merasa terancam eksistensinya. Iapun beberapa kali dipenjarakan, dan dikenai hukuman kerja paksa hingga berbulan-bulan lamanya. Namun segera dilepaskan kembali karena dianggap tidak memiliki cukup bukti melakukan kegiatan makar seperti yang dituduhkan sebelumnya.
Semakin dianiaya, dan di’dzalimi” maka menurut hukum kekekalan social (hehe, yang ini reka-reka saya), maka bertambah tenarlah ia. Banyak orang bersimpati dan menjadi pengikutnya. Sebagian besar, adalah mereka-mereka yang kehilangan harapan, lalu seperti menemukan “pencerahan” melalui kata-kata Sang Guru, juga mitos-mitos yang mengelilinginya. Ia memang akhirnya ditangkap secara permanen oleh pemerintah Belanda, di cap kurang waras dan dibuang ke Singaraja atau ke Batavia. Ia mungkin dianggap suatu ancaman yang bisa mengganggu ketertiban—meskipun Guru Dane tidak pernah angkat golok, dan tak sesuatupun terjadi ketika ia ditangkap, para pengikutnya tak melawan dan tetap menyebarkan paham yang ia wariskan secara diam-diam.
Guru Dane memang bukan pemberontak dalam pengertian fisik mengangkat senjata. Ia hanya seseorang yang berpikiran revolusioner dan menyebarkan pahamnya melalui desas-desus, dan itu, bagi sebuah kekuasaan otoriter, tentu sangat menggelisahkan.
***
Di Pelataran pantai yang tidak begitu luas petang itu, suara music mulai berdentaman dari warung-warung remang-remang yang berderet compang-camping sepanjang garis tepi selazar. Suaranya begitu riuh memekakkan telinga. Mengoyak magrib, dan isya’ berkumandang. Beberapa orang, dengan tampang selusuh malam mulai berdatangan. Ada yang membawa perempuan berdandan menor, adapula yang tertunduk sendirian di sebuah sudut remang dengan pikiran terasing. Di depannya, berbotol-botol minuman kosong tampak nganga, sementara music dengan syair patah hati atau cinta sabunistis terus meluncur, mendera telinganya.
Sayapun tersenyum simpul, sedikit kecut, bahkan di tahun 2011, diawal mellenia ke dua Masehi ini, dimana Microsoft dan Machintos berebut ruang kuasa untuk mereproduksi mitos tekhnologi, hal seperti ini ada dalam daging kebudayaan kita. Saya memang sempat membayangkan sebuah tempat lain, semisal di tepian sungai Siene yang membelah kota Paris-Perancis dengan jembatan-jembatan berukir seperti rambut ikal itu. Di sana juga terdapat kedai-kedai “tuak” dengan tawaran yang berbeda. Di kedai-kedai yang menjajakan anggur dan minuman berkelas itu konon para pemikir semacam Henry Bergson, Sartre, Foucoult dll sering berkumpul. Mereka juga berbicara revolusi, selain hal-hal lain semacam filsafat atau kesusastraan. Anggur dan minuman beralkohol itu pastilah membuat pikiran atau imajinasi mereka melayang, melayapi ranah-ranah tak bertepi. Berbagai buku dan karya kesusastraan, juga filsafat, yang menentukan gerak zaman lahir dari meja-meja para peminum itu. Pada akhir tahun 1970 atau awal 80-an, Foucoult bahkan dengan antusias mendukung revolusi Iran. Di kedai-kedai minum itu ia menggelar berbagai jumpa pers dan menyerukan dunia mendukung gerakan yang dipimpin Ayatullah Khomaini.
Ah, betapa beruntungnya mereka, yang hidup pada sebuah kebudayaan yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berfikir dan ketinggian akal budi. Tetapi bukankah Eropa bisa seperti sekarang ini setelah berabad-abad mengeruk, mengeksplotasi, menjajah dan menistakan bangsa-bangsa yang kini miskin dan menderita seperti Indonesia? Berapa juta budak yang harus menjadi tumbal atau sekedar menjadi ganjal meja kebudayaan mereka sehingga bisa melahirkan para pemikir yang brilliant dan “seolah” berbalik menentang penjajahan, penindasan, ketidak adilan serta mengobarkan semangat revolusi itu?
Saat ini, di beberapa kota besar terdapat beberapa club pecinta wine, minuman ber-alkohol, dengan citarasa khas bagi penikmatnya itu. Sayapun pernah mengikuti beberapa pertemuan di kelab-kelab khusus tersebut. Biasanya di hotel-hotel berbintang. Kebanyakan anggotanya adalah orang-orang “mapan”, dan jelas berduit. Mereka saling pamer koleksi, dari anggur-anggur terbaik yang sanggup mereka buru. Ada wine buatan tahun 1700an yang harga sebotolnya setaraf dengan harga dua hektar tanah di kawasan paling elit di pulau Lombok. Saya hanya bisa mendengar celotehan itu dengan mulut terkesima, meskipun dikesempatan lain pernah pula merasakan ‘nikmat’nya anggur buatan abad ke 17 koleksi Vatikan melalui seorang Frather kawan saya, yang ‘mencuri’nya dari altar persembahan di sebuah katredal ternama dan menukarnya dengan anggur murahan (Awas, kenakalan remaja, jangan ditiru hehe). Anggur, Wine, dan sejenisnya itu, pada akhirnya bukan sekedar cita rasa melulu. Ia adalah sebuah ideology, yang mewakili kelas social tertentu. Milik golongan mapan, terpelajar, sebab hanya mereka yang peduli sejarah dan kebesaran masa lalu bisa menikmatinya.
Sementara disisi lain, orang-orang “kelas bawah” juga memiliki cara tersendiri untuk menikmati hidup melalui adu saling pamer ‘minuman beralkohol itu’. Mereka bisa saling pamer pengetahuan dimana bisa mendapatkan tuak kualitas terbaik, tentang kepekatan rasa, warna cairan,aroma, efek tertentu, juga tempat-tempat yang “nyaman” untuk menikmatinya. Beberapa justru lebih konyol dengan menyampur berbagai larutan beracun seperti obat nyamuk untuk menimbulkan efek tertentu dan berakhir dengan kematian massal. Namun satu hal yang saya jumpai tentang persamaan dari kedua komunitas social itu adalah: mereka telah melupakan pikiran revolusi!
Dan dikeremangan petang yang mulai berkarat di pelataran pantai itu, sayapun semakin tertunduk layu dengan pikiran bercampur aduk, entah oleh pengaruh minuman atau hal-hal lain yang menyesakkan dada. Dari kegelapan sejarah yang semakin pekat, saya “melihat” guru Dane, dengan tangan dan kaki terikat di sebuah sudut ruangan penjaga pantai, tak jauh dari gedung Nikhendels Bank--sebuah bank ekspor/import era kolonial-- yang bekasnya masih berdiri kokoh hingga sekarang. Pandangan matanya menerawang jauh entah kemana. Seorang Marshosi, polisi rahasia Belanda, berdiri mendekatinya lalu mengencingi wajahnya. Ia diam tak bersuara. Juga tak melawan, kecuali dengan senyum sedikit sinis. Beberapa hari ia dibiarkan merana, diperlakukan layaknya binatang, sebelum akhirnya sebuah kapal barang merapat singgah dan membawanya pergi ke Singaraja. Tak ada isak tangis dari para pengikutnya, juga ucapan basa-basi dari para serdadu yang menendang pantatnya ke pojok ruangan sempit di buritan kapal yang pengab dan sesak oleh hewan ternak dan sejenisnya. Hanya malam, perlahan merayap, menikam bayangan-bayangan…
Mataram, 1 Nopember 2011









Comments