top of page

PEREMPUAN LAUT BERKOBAR

  • Jan 1, 2016
  • 2 min read

Sampai akhir abad 16, dibanding Portugis, Spanyol, Inggris & Denmark, Belanda hanyalah kerajaan miskin, udik dan terbelakang di Eropa. Pada tahun 1592 Houtman dikirim oleh para pedagang Amsterdam ke Lisboa untuk menemukan sebanyak mungkin informasi mengenai Kepulauan Rempah-Rempah. Di peroleh kabar, di Bantenlah tempat terbaik untuk membeli rempah-rempah. Sebab sebelumnya mereka hanya dapat membelinya dari Portugis dengan harga yang selangit.

Hingga akhirnya pada 2 april 1595, Houtman ditugaskan memimpin ekspedisi ke Banten membawa 4 armada kapal dengan persenjataan lengkap. Itulah ekspedisi pertama Armada Belanda ke Nusantara. Meskipun akhirnya ia berhasil kembali ke Belanda, namun ekspedisi selama 3 tahun itu sangat compang-camping. Mereka banyak dihantam persoalan, dari konflik internal, terkena penyakit, menghadapi perompakan dan pengusiran. Dari 400an awak, akhirnya hanya 87 orang yang tersisa. Namun meskipun tidak byk barang dagangan yg dibawa pula, ekspedisi itu dianggap sangat sukses karena berhasil menemukan jalur perburuan rempah-rempah ke Nusantara. Pelayaran Cornelis De Houtman itulah yg membuka gerbang kemakmuran bagi negeri Belanda hingga abad-abad tak terkira.

Atas kesuksesan tersebut, 2 tahun berikutnya Houtman kembali di percaya memimpin lebih banyak lagi armada ke Nusantara. Mereka singgah diAceh dan bermaksud merebut pintu gerbang perdagangan rempah-rempah Nusantara. Sebab Aceh yang berada di ujung Paling Barat dari deretan Pulau Rempah-rempah merupakan perlintasan paling strategis untuk menguasai jalur perdagangan. Sementara wilayah lain yg lbh strategis telah dikuasai oleh pesaing mereka : portugis, spanyol & inggris.

Mungkin ia berpikir akan mudah menahlukkan Aceh, apalagi angkatan lautnya hanya dipimpin oleh Laksmana perempuan. Tahu apa perempuan, janda pula, soal dunia kelautan yang kejam? Juga soal peperangan dan pertempuran laut? Mungkin ia berpikir perempuan2 di Nusantara lebih terbelakang dibanding kaum perempuan di eropa pd wkt itu yg lbh gemar bersolek dan menggantungkan hidup pada laki-laki. Ia tidak tahu jika perempuan Nusantara lebih tangguh dalam hal apapun dibanding laki-laki. Dan Aceh adalah gudangnya petarung handal serta memiliki 2000 pasukan khusus Perempuan yang sangat terlatih bertempur disegala medan. Pasukan itu dipimpin langsung oleh Kemalahayati.

11 September 1599, adalah hari yg paling naas bagi Cornelis De Houtman. Usianya baru menginjak 34 tahun serta memiki karir yg cemerlang. Entah, antara rasa percaya diri yang berlebihan, atau justru karena rasa penasaran yang amat sangat ketika ia mengundang Keumalahayati ke kapalnya. Sebab perjamuan itu berakhir dengan sangat mengenaskan, Houtman terbunuh dalam sebuah duel satu lawan satu melawan laksamana cantik kesultanan Aceh itu. Setelah kejadian itu puluhan armada Belanda diobrak-abrik dan dihancur leburkan oleh pasukan Keumalahayati. Iapun sangat ditakuti oleh para kompeni, baik Belanda, Inggris, Portugis dan para bajaklaut di selat malaka. Namanya begitu harum hingga ke lintas samodra. Untuk rekonsiliasi Belanda harus membayar mahal dan mengundang utusan dari Aceh ke negeri mereka.

Syruuuppuutt petang...siang tadi sy menyempatkan diri berdo'a di makam Laksmana Keumalahayati. Letaknya di atas sebuah bukit dan agak tersembunyi, sktr 30 km arah timur Banda Aceh.

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page