MENGUNJUNGI MAKAM "GURU PARA AULIA"
- Jan 1, 2016
- 3 min read
Hamzah nin asalnya Fansury
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali
Dari abad ‘Abd al-Qadir Jilani
Hamzah di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia di manakan payu
Hamzah Fansury di dalam Mekkah
Mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus terlayu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah
Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi Qurbani
Bukan Ajami lagi Arabi
Senantiasa wasil dengan yang baqi
Sore ini saya berziarah ke "salah satu" makam Syeikh Hamzah Fansuri yang berada di Bukit Ujung Pancu, letaknya benar-benar di ujung aspal, di seberang Banda Aceh menyusuri perengan perbukitan. Ya, sebagaimana tokoh-tokoh legendaris namun misterius lainnya, konon Makam Syeikh Wahdatul Wujud ini ada di beberapa tempat; di Aceh, Singkil, Kedah Malaysia dan di Makkah Al Mukarromah. Makam yang berada di Ujung Pancu inilah yang paling banyak dikunjungi orang, dan konon para pengikutnya masih sering berkhalwat di tempat yang dianggap wingit ini.

Beberapa cerita menuturkan bahwa Syeikh Hamzah Fansuri di Hukum mati oleh Sultan Iskandar Muda karena berselisih paham dengan Ulama Kerajaan Nuruddin Arraniri. Beliau dianggap sesat karena menyebarkan faham Wahdatul wujud yang pada masa-masa berikutnya di Jawa dikenal sebagai ajaran 'Manunggaling Kawulo Gusti' yang diajarkan Syeikh Lemah Abang atau Siti Jenar. Saya sendiri kurang percaya dg pendapat ini, sebab Syeikh Hamzah Fansuri berbeda era dengan Iskandar Muda maupun Nurudin Arraniri.
Beberapa peneliti memang menyebut jika Syeikh Hamzah fansuri ini hidup pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Peneliti dari Malaysia, Prof Dr. Naguib Alatas dalam bukunya “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” menyebut Hamzah Fansyuri sebagai Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu. Dalam buku "Hamzah Fansuri Penyair Aceh", Prof. A. Hasymi menyebut Hamzah Fansuri hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tetapi, pada tulisan lainnya dalam Ruba’i Hamzah Fansuri disebutkan, “Hanya yang sudah pasti, bahwa beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M).”
Saya sendiri cenderung berpendapat bahwa Syeikh Hamzah Fansuri lahir sebelum tahun 1600, dan menjadi guru para ulama besar Nusantara termasuk sebagian dari Walisongo di Jawa.
Seperti diketahui, sejak kejatuhan Bagdad oleh bala tentara Mongol 1257, perlahan-lahan pusat "kebudayaan" islam berpindah ke Nusantara. Di mulai dengan berdirinya kesultanan Ternate 1258, lalu kesultanan Samodra Pasai di Lhoksumawe 1267. Setelah itu islam berkembang sangat masif diseluruh nusantara dibawa oleh jaringan ulama yg berpusat di sumatra bagian barat, sekitar teluk malaka, dan Pesisir Jawa. Saat itu Aceh menjadi pusat kajian Islam yg sangat berpengaruh. Banyak ulama-ulama besar yang lahir/belajar dr sini termasuk Malik Maulana Ibrahim dan Sunan Ampel yang mempelopori penyebaran Islam di Jawa hingga berdiri kesultanan Demak. Disusul dengan berdirinya kesultanan-kesultanan lainnya di hampir seluruh kepulauan Nusantara.
Kesultanan Samodra Pasai runtuh setelah penyerbuan portugis 1521, setelah sebelumnya pd 1511 portugis berhasil menakhlukkan Malaka. Beberapa ulama progresif seperti Hamzah Fansuri, sangat aktif mendukung berdirinya kesultanan Aceh Darussalam untuk melanjutkan perjuangan dan menjadi penasehat Sultan. Sebagai sufi & ulama pengembara, beliau juga aktif membangun jaringan antar ulama di beberapa negara spt arab, persia, India, Thailand, Malaysia hingga Jawa. Salah satu murid terkenal dari Hamzah Fansuri adalah Syamsudin Al Sumatrani, yang menggantikan beliau sebagai penasehat Sultan. Ketika Iskandar Tsani naik tahta, beberapa ulama konservatif tidak menyukai metode pemikiran (filsafat) dan ajaran sufisme ala Hamzah Fansuri. Mereka berhasil mempengaruhi sultan untuk menghukum mati beberapa murid Syamsudin Al Sumatrani.
Syruuppuutt Sore...











Comments