BULAN SABIT DI ATAS LANGIT GAZA
- Mar 4, 2017
- 3 min read
(Haifa kepada Radya)*
Kekasih, ya, Kekasih...
Maafkan jika aku kembali mengganggu istirah panjangmu. Sekali ini saja, sekali saja, biarkan aku rebah pada keluasan cintamu. Biar kutiruskan kuncup rindu pada jelaga matamu, meski hanya dalam anganku saja. Sebab kudapati pada Tanah yang diKuduskan ini, senyatanya kematian tak selalu menjadi akhir penantian. Sungguh, aku tak pernah gentar pada kematian, sebab aku percaya itu akan menjadi pintu yang akan mengantarkanku ke surga tempatmu berada kini. Juga penggalan nasib yang hanya menyisipkan duri dalam getir. Bumi ini sudah sudah terlalu renta, dan kita selalu tak pandai bersuka cita. Maka biarlah, biarlah segala yang iba datang menyambut kita yang merangkak tertatih-tatih di atasnya.
Hari ini, seisi kota dihujani bom dan peluru. Asap dan debu berhamburan di mana-mana. Jerit tangis dan kematian membumbung sesak di angkasa. Anak-anak dan para remaja kehilangan tangan serta kaki, para ibu kehabisan air mata. Darah kembali berceceran,membentuk huruf-huruf yang sebenarnya tak begitu susah diterjemahi sebagai kekalahan hari ini. Kekalahan kita menghadapi wajah gelap kemanusiaan kita sendiri. Dan di sini, di Gaza, aku sering bermimpi tentangmu, tentang kita. Aku menangis terharu, entah untuk merayakan apa. Apakah kerinduan itu sebuah dunia nyata atau ilusi aku juga tak peduli. Aku hanya ingin berpaling kepadamu. Pada seraut wajah kedamaian yang selalu dan akan selalu mengisi sisa hari-hariku.
Kekasih, ya kekasih...
Aku tak perlu lagi menggugat apakah Tuhan akan datang pada saat-saat seperti ini, sebab kitalah yang cepat atau lambat akan mendatangi-Nya. Juga pertanyaan-pertanyaan konyol tentang kepedihan, kenapa Dia yang Maha Menyembuhkan justru mengambil kebahagiaan dari para ibu yg sedang bermain dalam tatapan lembut anak-anak tak berdosa itu dengan kekejian yang bahkan takkan sanggup kita bayangkan. Tak perlu. Sebab senyatanya hanya dengan itulah kita terus tegak berdiri memandang langit beludru bertahtakan bulan sabit dan berharap bintang-bintang menjelma puisi. Kita percaya pada hal ikhwal kebaikan, dan terus tergugah menegakkannya. Itu jauh mengurangi beban pertanyaan yang sering kulayangkan pada setiap butir peluru yang kumuntahkan ke dada orang-orang yang kita sebut sebagai musuh itu. Mudah saja, mudah saja melawannya, para penjahat itu. Seperti menyerahkan diri pada kematian terindah yang sanggup kita persembahkan pada kehidupan. Namun, apakah kematian serta-merta menghapus karat-karat dendam dan kebencian yang terlanjur mengurat darah dalam diri kita dan anak cucu kelak?
Kekasih, ya, kekasih....
Berapa lama lagi kesia-siaan ini akan merangkai bentuk, setelah jalan panjang penantian selalu terlalu terjal untuk didaki? Luka dibalas luka, nyawa beradu nyawa, kematian berganti kematian, hingga hanya aroma pedih yang tersisa dari ladang kehidupan. Pada sangkanya bumi hanyalah neraka tempat melebur dosa. Mereka lupa bahwa bumi adalah juga tempat untuk menyemai kebaikan-kebaikan. Atau mungkin sama saja. Sebab yang kudengar, di negerimu, pada syurga yang dihadirkan di bumi itu, orang-orang juga sudah mulai tak percaya pada kehendak kebaikan. Pada hidup yang seluruhnya mewujud nyata dalam genggaman. Apakah setiap makhluk harus merasakan neraka dunia untuk sampai pada surga yang diinginkannya? Tak cukupkah berabad-abad deru debu ketamakan dan keputusasaan di negeri para nabi dan durjana saling beradu pitam ini menjadi goresan tanda untuk menguatkan hati bahwa seseorang hanya perlu sedikit bersyukur agar segala nikmat kehidupan tak segera berlalu dari dekapan setiap nyawa yang bernafas di muka bumi?
Kekasih, ya, kekasih...
Bulan sabit baru saja beranjak pergi, meninggalkan bumi dalam jejak yang dangkal. Mungkin akupun mulai lelah dengan permainan nasib ini. Karena itu biarkan sekali ini saja, sekali saja, kusandarkan lelahku pada bahumu, meski hanya dalam anganku saja.
Batudawa, 11 Juli 2014
* Haifa & Radya merupakan tokoh utama dalam Novel GADIS GURUN karya Paox Iben Mudhaffar
(Tersedia ditoko buku Gramedia dll)











Comments