top of page

ANTOLOGI BULAN BIRU

  • Mar 4, 2017
  • 7 min read

BULAN BIRU

--Ladrang Sankan Calahyang

Di antara tengadah tanya

selalu terselip gagu, seperti rambu-rambu

tak henti berdehem di persilangan sepi. Wajah ini, atau derita siapa

terpancar dibalik muram televisi?

Tak ada, jawabmu.

Baiklah. Nol koma sekian dari derajat mimpimu

siapa yang memanggil-manggil kutukan itu?

Selayang camar hitam menggenggam risalah

Sudah kulupa, itu percikan Pararaton atau setetes darah

yang tersangkut di ujung rumputan Bubat

Candra Sengkala yang membayangkan diri

sebagai sebuah pulau di tumpukan koran kuning pariwisata

telah pula menjeratmu hingga ke negeri-negeri pengasingan

sedang jarak terdekat hanyalah lumut

dan kekonyolan-kekonyolan menjelang sahur

Selebihnya,

tanda baca yang tak pernah sampai

pada peristiwa

apalagi ruhani yang Hira’

"Tapi, Yah,,, Bulan itu berwarna biru".

Gubrakkk!!!

Batudawa, 25 Juli 2013

-------------------

ANAK-ANAK WAKTU

Telambat, katamu. Tak apa, pikirku.

Sebuah pohon telah rubuh dari hatiku. Anak-anak menemukannya

pada tumpukan koran bekas dan buku-buku porno stensilan. Jauh,

jauh sebelum mereka kenal facebook dan global warming. Mereka juga

tahu, bahwa segala macam kertas dan apa yang tertulis di wajahnya

itu terbuat dari sebuah pohon yang rubuh dari hatiku—juga hatimu.

Anak-anak itu,katamu,

apakah mereka tak pernah

dilahirkan oleh ibu?

Mereka hanyalah semacam kata yang urung menuliskan diri

pada lembar sejarah hari-hari kemarin. Mereka suka berlindung

dalam gulungan tissue dan sajak-sajak gelap pada dinding kamar

mandi setelah urung bunuh diri, tergesa mengelap ingus, dan tak

peduli lagi beda darah perawan atau menstruasi. Sebab sungguh,

mereka tak pernah dilahirkan oleh ibu.

Mereka sangat pandai bernyanyi. Dengar saja lagu mereka;

Terpujilah wahai engkau kisah para nabi, Peterpan,

beserta teman-temannya…namamu harum semerbak

wangi tak perlu surat ijazah!

Terlambat, pikirmu. Tak apa, kataku.

Ssttt, anak-anak itu, mereka sedang mengerjakan ujian nasional.

Mereka terlalu asyik mengerjakan soal-soal hingga lupa bahwa

mereka tak pernah dilahirkan oleh ibu.

Mereka sangat pandai berhitung, dari fluktuasi harga handpone

dan laptop keluaran terbaru di pasar gelap hingga diameter lingkaran

payudara teman-teman sekelasnya. Mereka sungguh cepat mengerti,

bisa maklum jika atap sekolah mereka sewaktu-waktu rubuh tertimpa

sebuah pohon dari hatiku--juga hatimu, atau kaca jendelanya pecah

dilempari kawan-kawan dari sekolah lain.

Mereka telah belajar banyak dari televisi dan internet

tentang pasar bebas yang membuat seseorang bebas melakukan apa saja

yang sanggup dilakukan, dan cara termudah melupakan semuanya.

Sebab mereka terbiasa tak memiliki ibu yang melahirkan.

Bima, 2 Mei 2009

------------------

PAK TANI DARI BANTAL TIDURMU

Pak Tani datang dari kancing bajumu

senyumnya hijau, sehijau empedu

menunggang kuda kayu

putar memutar waktu

seperti jeranjang

tempat kau menabur sembilu

diantara gedung-gedung merah jambu

yang tumbuh di bawah bantal tidurmu

O, lemparkan saja kotormu

sebusuk pantat bermata bisulmu

# cangkul-cangkul yang dalam

cangkul yang dalam dikepalamu

Pak Tani

dimana kau lukis wajahTuhanmu

ketika semua melempar dadu ke ketiakmu

atau simpan saja ceritamu

pada mata cangkul dikepalamu

agar anak cucumu mampu

merebut kota dari para hantu;

kekuasaan berhati buntu

Jogja 13102010

PERCAKAPAN SEHABIS SUBUH STASIUN TUGU

bersama F,

Dari pintu peron, senyumu menyembulkan asap gundah

menyibak pagi dengan sejuta rahasia yang bersiap mekar.

Di sepanjang perlintasan rel, matahari memutar arah

dan urung terbit dari arah timur.

“Fajar hanya terbit dari sebelah kirimu,” katamu, menirukan

seorang pengamen yang mati tertidur memeluk gitarnya.

Berjuta pengelana telah datang, atau sekedar singgah di stasiun ini.

Ada yang membawa bekal korek api sembari berharap dunia

segera beranjak siang, ada pula yang membawa-bawa kulkas

dan menyelipkan sebuah bom tanpa pemutar waktu

di punggungnya. Tetapi sepagi ini, siapa pula yang berjalan tertatih,

menyeret dunia dengan selempang ungu terjerat dilehernya?

“Tentu saja, mereka—para dosen dan mahasiswa, kaum intelektual,

yang rajin tadarrusan. Menimbang hukum-hukum penawaran

dengan permintaan para komprador!” jawabmu ketus.

Jogja 29 Maret 2011

-----------

MALAM SEHABIS HUJAN DI TRETES

Di penginapan-penginapan murahan yang bertaburan sepanjang perengan bukit, masih ku dengar nyanyian sumbang itu diantara kecipak gerimis dan kekalutan yang mengantarkanku pulang, Ken, saat udara beku ini membajak sekeping gairah para lelaki pencari arah.

Mungkin bukan kesepian benar yang menyesatkan mereka, hanya sebuah kerelaan untuk menjelajahi hidup tanpa harus senantiasa terbenam pada sejarah yang dinistakan membuat mereka semakin percaya bahwa hidup ini memang layak untuk digenapi.

“Cuihh, seribu tahun bukanlah waktu yang lama untuk terulangnya sebuah penghianatan…” isakmu.

Dari undakan-undakan waktu yang mengantarkanku kepadamu, ku lihat langit yang membiru sedalam kebisuan. Tetes-tetes embun, memendar samsara dan memijah diri menjadi berjuta-juta kunang-kunang yang mengambang di setiap sudut lembah. Mereka terus memperanak-pinakkan kecemasan di dalam cerobong-cerobong pabrik dan selalu gagal mengeja warna langit, ken.

Di jalanan, mereka cukup lihai menyulap kematian dengan angka-angka keserakahan. Inikah jawaban atas do’amu di malam-malam saat ujung keris buatan Gandring menyingkap pangkal pahamu dan merobek kemaluanmu, ken?

Pandaan, 31 Maret 2011

-------------

DI PASAR SORE KALIWUNGU

Apa jadinya jika sebuah kota tak memiliki alun-alun atau pasar?

Tentu takkan ada anak-anak yang merengek minta mainan

dan bermimpi menjadi pahlawan bertopeng.

Masih kususun sepenggal kisah tentang-sungai-sungai berwarna

ungu yang mengalir dari kata-katamu, Jan, ketika sore yang kehilangan

jendela itu menerbitkan kembali kisah usang para kafilah yang tersesat

di dalam komidi putar. Anak-anak mereka mulai rajin menabung

dan bersiap meruntuhkan 7 Syawal, sementara dari beranda masjid

yang gagu memoles diri, para santri menabuh udara dari balik dadanya

yang renta. Mereka tak henti menggumamkan do’a, juga dzikir, diantara riak

dan tanda yang terus mengelabui zaman.

Apakah karena itu, mereka terus ditinggalkan Sang Zaman?

Sebuah pasar, bukankah itu cara termudah untuk melupakan diri sendiri? kita tersesat diantara rayuan dan hasrat tanpa harus merasa disesatkan? Apakah kegetiranmu telah sampai pada kerapuhan cara pandang, Jan? maka lihatlah dunia kami; pasar, pesantren dan masjid, juga makam-makam tua yang terkepung pabrik-pabrik. Apalagi yang bisa diharapkan dari sebuah peradaban? Tak seperti martabak yang terayun-ayun di penggorengan, dunia, senyatanya tersusun secara berlapis dan dilipat menjadi seutas nasib yang harus kami santap sebagai bocah-bocah tanpa perlu pertanyaan berarti. Dan dari sebuah mimbar yang dilupakan itu, aku melihat dunia yang jungkir-balik dalam tatap mata anak-anak itu.

Pungkuran, 7 April 2011

------------

SEMARANG-KALIWUNGU

; The Voyages of Zheng He

Jangkrik genggong, jangkrik genggong// luwih becik omong kosong

Semarang kaline banjir //ja sumelang ra dipikir

Mengenalimu, seperti memahami sebuah genta yang terapung di udara dengan suara yang nyaris runtuh. Seribu abad belumlah berlalu dari pelayaranmu yang pertama, Jan, tetapi tanah ini begitu renta menahak segala yang iba. Gugusan-gugusan hujan tertoreh pada setiap keping kenangan, menjelma seribu pintu yang bersiap menyesatkanmu dalam bilangan waktu yang enggan membaca diri sendiri. Rindu itu, nyatanya, tak serupa wajah suci sebuah kuil yang terbakar pada kalimat-kalimatmu. revolusi. 1926. Stasiun tawang. Pasar Johar. Simpang lima. Tugu Muda… Uups!

Akupun teringat pertempuran demi pertempuran yang kau layangkan dalam berbilah-bilah sepi tak terungkap itu. Tidakkah itu seperti menggosok pualam pada sederet nisan di puncak bukit berkapur itu? Mereka kini rajin mengirimkan karangan bunga sebagai tanda kasih, untuk keteguhanmu membelah bukit-bukit ilalang itu menjadi istana-istana yang bebas banjir ;

agar mereka bisa leluasa bercinta sambil memetik bulan tanpa memikirkan warisan hutang negeri-negeri di perantauan?

Jangkrik genggong, jangkrik genggong //wani nglirik sepi uwong

yen ngetan bali ngulon //tiwas edan rak kelakon

Yen ngrujak, ngrujaka nanas, aja ditambahi kuweni //kene tiwas nggagas,

awak adhem panas, jebul ana sing nduweni

e... ya... e... ya... e... e... ya... e... ya... e... ya... e... ya... e...

Berjalan ke arah matahari ternggelam, ku kenang lagi saat-saat kelahiran agar setiap yang diam kembali bersuara. Pada hamparan bisu tanah-tanah tak bertuan yang kini menjelma pabrik-pabrik dengan cerobong raksasa yang menggoresi pintu langit dimana kau biasa melabuhkan do’a, masihkah kau berdiri dengan kepongahan sejarah yang semakin dinistakan oleh anak-anaknya sendiri itu?

Kendal kaline wungu //ajar kenal karo aku

lelene mati digepuk //gepuk nganggo walesane

Dari balik sarung dan kerudung, ku bayangkan santri-santri yang kini menjadi sederet angka di daftar absen pintu-pintu penjaga pabrik itu mendendangkan futuwwah dan at-tawwarikh al-nizami sebagai ganti lagu-lagu internationale yang pernah hidup dalam dada para pendahulunya. Dan dibarisan sunyi itu kau berdiri mengenakan jubah hitam, dengan senyum merobek cakrawala…

Jangkrik genggong, jangkrik genggong//sampun cekap mangsa borong

Kaliwungu Maret 2011

------------

LOA JANAN

; Orcaella Brevirostris

Pada batas apakah rindu itu terbelah, jan? 920 Km dari warna mimpimu, orang-orang menebar jala untuk menangkar badai kemakmuran, sambil membisikkan mantera pengantar tidur. Di atas Lamin sepanjang Long Iram,Tanah Rendah hingga Muara Kipas, peta-peta menebar pesonabmemanjangkan ikatan tali nasib pada rakit-rakit tak bertuan, tanpa sedikitpun berkedip pada nasib anak cucu. Mata-mata gergaji menatap juling kosong periuk, dan memaksa para lelaki menyelipkan Mandau di relung paling gelap dalam sejarah hidupmu .

Di tubir nyanyianmu, ku dengar hutan-hutan yang kehilangan simfoni , tanah-tanah meradang dalam sunyi luka tak terjamah. Burung-burung enggang, masihkah bersenyawa dalam tarianmu, Jan, setelah pohon-pohon tumbang tanpa angin yang memutar dari kelepak sayapmu, paruhnya terhunus seperti nganga tanah dan ingatan.

Di atas tungku, waktu menunjuk alpa . Sesaat, angin berhembus, mengingatkan pada jendela-jendela tua di bilangan tanda ketika matahari mulai muncul dari balik pergelangan tangan. Dan diperlintasan musim itu, hujan tak lagi mengirimkan pesan, halilintar menyambar udara, mengibaskan senyum pada kejenakaan yang mulai uzur.

Di beranda sepanjang sungai itu, anak-anak bersorak menyaksikan naga-naga mengayuh diri dengan cerobong asap yang membutakan warna langit. Sesekali, orang-orang menyebut namamu dalam puncak kebisuannya.

Kau dimana, Jan? ;

BLACK COAL

Dari apakah rindu itu terbangun, Jan, setelah nganga muara menerbitkan kota-kota dari seberang angan-angan? Mereka mulai menyalakan lampu dan berpesta dari 340 juta tahun kesunyianmu, Jan! Dadanya berdering seperti kulkas yang kehilangan dingin.

Mobil-mobil berhamburan, menaburkan jengkal demi jengkal tanah dan api yang merayap pada setiap dinding tubuhmu, serta atap bahasa dimana biasanya kau sibakkan arakan-arakan awan yang menghalangi bulan dengan telunjukmu pada malam-malam tak bertepi itu. Dari sebuah mimbar yang tergusur seseorang meniupkan sangkakala bagi kematian jasad masing-masing Adakah tubuhmu disana, Jan? Bergelimang bimbang antara hasrat menyalakan peradaban atau kembali ke semesta yang redup?

Batu-batu membara dalam ingatan, menghembuskan seribu tanya, serupa kepingan-kepingan dendam dari sejarah yang mulai ditinggalkan. Tongkang-tongkang saling serobot, memijahkan diri pada kecipak ombak , menerobos palang pintu langit dan memasuki puncak keheninganmu. Sungguh, ku rindu pelukanmu, Jan, terasa seperti kabut yang selalu mengajakku pulang ke dalam dekapan seorang ibu yang rajin mendongeng. Dari dadanya mengalir sungai-sungai, tanpa sengkarut prasangka dan sesal.

Datang hulu bahanyut//Gubang bahanyut mudik

Membawa penumpang wan barang//Mandi' tahu

entah kemana Aku meharit di sini//Melihat sungai meronta

Hati mandi' nyaman melihat//di sungai Mahakam

Samarinda-Jakarta Maret 2011

-----------------

DODO RINTI

Masihkah kau terjaga seperti biasanya, Rin

pada malam-malam yang sebentar lagi luruh

menjatuhkan subuh, menyibak semusim bayangan

pada separuh dunia yang melaju penuh karat ini?

70.000 ha hutan di kepalamu berpijar cahaya

pagi menari di atas ratapan serangga

juga hewan-hewan liar yang kebingungan

bermigrasi, daun-daun melepuhkan serapah

juga untaian padi yang sebentar menguning

dan akan semakin terbiasa lagi mengebiri nasib

para petani, semua tergambar jelas pada sisa kopi

dalam cangkirmu . Apakah semua itu juga akan

kau tuangkan dalam lembar-lembar cerita

di depan kelas pagi ini, Rin? Apakah mereka

sempat bertanya atau bertepuk tangan

saat traktor-traktor dengan roda setinggi manusia

dewasa itu melaju, membabat pohon-pohon

dan mengeruk berjuta matrix ton biji tanah

tanpa sedikitpun menyisakan sebidang harapan

untuk dikenali ?

Ah, Anak-anak pasti terbiasa, sebab mereka

telah menggambarnya berkali-kali di atas meja

atau di dinding kelas masing-masing

tanpa air terjun yang mengalir deras

seperti hujan yang jatuh menimpa kepala

beserta batu-batu dan pakis berserakan

disekelilingnya untuk menggosok pantat

dan selangkangan yang mulai gatal oleh

limbah merkuri. Apakah mereka menyukai

saat kau ajari membuat mainan

mobil-mobil raksasa yang meruntuhkan

gunung itu, pesawat yang mengangkut

para juragan botak dan kapal-kapal pengeruk

harta, dari pelepah pisang?

Sementara di dinding lain, ribuan anak-anak

berpesta merayakan hari

dengan mainan-mainan baru

yang terbuat dari genangan danau

di bekas hutan air matamu.

Apakah kau masih suka berjalan kaki

menuju sekolah, Rin, bersama anak-anak itu,

bertelanjang kaki, melewati bukit-bukit

dengan nyanyian burung-burung kasmaran

dan barisan pohon-pohon yang memagari hati?

Sementara para tetangga di sekelilingmu

lebih asyik memperbincangkan model motor matic

keluaran terbaru tanpa sedikitpun menoleh

pada urusan pendidikan dan masa depan

anak-anak itu. Akankah kelak, mereka juga

akan lupa bertanya kenapa selalu tersandung alpa

dan kebinasaan?

Batu dawa, 30 Desember 2011

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page