top of page

PAMERAN TUNGGAL NI WAYAN SUPADMI

  • Feb 21, 2017
  • 3 min read

BUNGA-BUNGA & WARNA RINDUMU

Santika Hotel Mataram, Seni merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Seni hadir dalam setiap ruang dan waktu, saat bangun tidur, anda memasuki kamar mandi, memilih baju, beraktivitas, hingga sesuatu yang bersemayam dikesunyian jiwa paling dalam. Seni ada disemua hal, dan karenanya mempengaruhi rahsa jiwa, bahkan perilaku hidup manusia. Tanpa seni, betapa hampa hidup manusia, dan peradaban tak lebih dari seonggok batu yang disusun.

Seni dalam tafsir umum lazim disamakan dengan estetika atau keindahan. Sejenis rasa, yang mengundang kesenangan, decak kekaguman, meski terkadang tak mampu kita terjemahkan dengan rasio, akal pikiran. Ada sesuatu yang misterium and trammandum di dalamnya, yang kadang memang tidak perlu diungkapkan atau diterjemahkan dengan bahasa apapun. Karena itu seni, sering diasosiasikan dengan rasa cinta, hasrat kerinduan terhadap sesuatu yang terpanai. Dan pada puncaknya, daya spiritual manusia akan mendorongnya kepada sesuatu yang ilahiah. Bahwa ada keindahan dari Yang Maha Indah, menelisip dalam setiap ruang dan peristiwa. Bahkan ia bersemayam dalam kenangan, atau keinginan yang belum tergapai.

Seni, Perempuan, dan Bunga, adalah tiga hal yang tak terpisahkan dalam pergulatan estetika kehidupan. Ketiganya menjadi sangat dekat dan identik satu sama lainnya. Perempuan tak hanya dilekatkan pada kehalusan cita rasa yang bernama seni. Perempuan, dalam banyak hal, adalah seni itu sendiri. Seakan keindahan Yang Ilahiah itu ada dan hadir mendekati utuh dalam diri perempuan. Pada kecantikan rupanya, atau tindak-tanduk/perilakunya.

Dan bila kita perhatikan, jika ada benda, mahkluk ciptaan Tuhan yang mendekati segala keindahan yang ada dibumi selain perempuan itu pastilah : Bunga. Sebab bunga, ia sangat unik. Ia bukan saja mewakili jalinan warna-warni yang memancarkan keindahan. Bunga adalah sebuah mahkota yang lahir/mekar dari sebuah proses panjang hidup tetumbuhan. Secara botani, bunga adalah bagian tanaman yang menghasilkan biji/buah. Banyak bunga yang memiliki warna cerah, aroma yang khas, yang berfungsi untuk memikat hewan seperti kupu-kupu dan lebah untuk membantu penyerbukan. Bunga juga menjadi bagian survival penting bagi tumbuhan. Apabila tumbuhan terancam seperti kekurangan air, berada pada suhu rendah, sejumlah tanaman akan berbunga lebih lebat dari biasanya untuk mengurangi metabolisme, dan apabila tumbuhan tersebut mati biji-bijinya telah menyebar sebagai tanaman baru sebagai usaha sintasan (survival).

Tak hanya itu, bunga juga memiliki banyak sekali manfaat bagi mahluk hiduplainnya serta manusia. Berbagai jenis bunga tertentu sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi/pangan manusia. Beberapa jenis lainnya juga digunakan dalam ilmu medis dan diramu menjadi berbagai obat. Itu sebabnya didunia medis kita kenal Bunga Wijaya Kusuma sebagai simbol penyembuhan. Mungkin karena aspek kemanfaatan dan keindahannya itu hampir semua bangsa, peradaban, dimuka bumi memiliki simbol bunga dalam entitas kebudayaan mereka. Bunga memiliki arti kultural, dipuja, dan digambarkan sebagai representasi dari keindahan dan misteri kehidupan. Bunga hitam melambangkan duka lara dan kematian. Bunga warna cerah adalah simbol pengharapan dan nasib baik. Sedang bunga putih adalah lambang ketulusan dan kemurnian cinta, serta banyak lagi makna lainnya.

Karena itu, pameran lukisan bertajuk BUNGA-BUNGA DAN WARNA RINDUMU karya dari Ni Wayan Padmi ini seperti meneguhkan banyak hal. Perpaduan antara seni, perempuan, dan bunga, seperti terjalin indah dalam satu kesatuan visi yang sangat utuh; Bahwa hidup adalah keindahan itu sendiri. Ada luka dan kekecewaan, ada penghiburan, ada rindu juga harapan, semua tergabung dalam bahasa dan rupa yang satu: bunga-bunga. Mengapa? Tentu saja, karena bunga-bunga, seperti yang saya gambarkan di atas, adalah lambang keindahan paling dekat dengan jiwa perempuan.

Bunga-bunga dalam karya Ni Wayan Padmi ditampilkan utuh sebagai bunga, tanpa hiasan atau latar lain yang berlebihan. Dengan mengambil corak realis-naturalis demikian, seolah ia ingin menyuguhkan realitas itu utuh apa adanya. Bunga adalah bunga, segala tafsir adalah milik manusianya, yang ter-impressi, tersedaksi dalam pukauan rahasia dan keindahannya. Sesungguhnya tidak mudah melukis dengan tekhnik demikian, apalagi menggunakan kertas dan cat air. Butuh kelembutan, ketelatenan, kejelian dan latihan yang cukup lama untuk menakhlukkan bahan-bahan yang dianggap “sederhana” itu.

Pameran ini menjadi lebih istimewa karena pelukisnya sebenarnya seorang yang “biasa” saja. Ia seorang PNS, Perawat kesehatan, tidak memiliki latar pendidikan seni dan tidak berprofesi khusus sebagai seorang seniman. Namun bakat seni yang dimilikinya tak disia-siakannya begitu saja. Sebab apalah artinya bakat jika tak pernah diasah dan digunakan untuk kemanfaatan kehidupan? Melalui media seni, khususnya seni rupa, banyak kebaikan yang coba diungkap dan disampaikan oleh Ni Wayan Padmi. Apalagi pameran ini tidak sekedar untuk hajatan seni, tetapi juga berdimensi amal untuk kemanusiaan. Selamat menikmati dan berapresiasi.

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page