top of page

MERIAHNYA PESTA NGGUA DI DESA SAGA-ENDE NTT

  • Sep 2, 2016
  • 2 min read

Hampir setiap komunitas adat memiliki hari-hari besar yang disakralkan. Siklusnya ada yang tahunan, empat, atau delapan tahun (Windu). Perhitungannya ada yang berdasar kalender bulan, matahari, musim atau ciri-ciri alam lainnya. Masyarakat adat Donggo di dataran tinggi Mbawa-Bima misalnya, memiliki hari raya Raju. Di Enrekang, masyarakat Kaluppini juga punya ritus delapan tahunan sbgmn masyarakat Bayan di Lombok Utara. Demikian juga masyarakat Saga di pegunungan Kelimutu-Ende, setahun sekali melakukan ritus Nggua.

Ritus Nggua ini biasanya digelar pada bulan Agustus/September. Secara umum, ritual ini adalah semacam upacara/pesta syukur. Rangkaian acaranya cukup banyak dan berlangsung berhari-hari. Dimulai dari acara do'a dan persembahan-persembahan, bersih-bersih kampung adat dan seluruh perlengkapan adat (ke'dhu bene), berbagi hasil panen (tu are tu), sidang para Mosalaki (nogo), dan menari memutari tubu Musu (Gawi).

Secara umum seluruh rangkaian acara memiliki aturan dan tatacara yang lumayan rumit. Banyak sekali pantangan/taboo yang harus ditaati. Inti dari semua itu adalah mengucap rasa syukur kepada Tuhan beserta alam, penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membangun perkampungan dan mewariskan tradisi, menyelesaikan berbagai sengketa dan persoalan, meneguhkan kembali posisi adat dalam kehidupan, serta berbagi rizki/kegembiraan.

Seperti hari ini, saya sempat menyaksikan para dewan adat (Mosalaki) bersidang. Ada yang terbuka, biasanya terkait dg persoalan umum, dan ada sidang/pertemuan khusus di dalam balai adat. Ada salah seorang warga mengadukan persoalan, tentang saudara mereka yang meninggal padahal pada hari-hari ini tidak boleh ada aktivitas 'melukai tanah' shg harus menunda upacara penguburan. Para Mosalaki kemudian saling beradu pendapat dan disepakati utk menentukan denda berapa babi yang harus dipotong agar bisa dilakukan upacara pemakaman.

Terkait dengan Taboo atau larangan/pantangan, banyak sekali yang harus dilakukan. Masyarakat misalnya tidak boleh membakar sesuatu di kebun, sampah sekalipun. Bahkan untuk memasuki kompleks rumah adat, ada jalur-jalur yang tidak boleh dilewati dan bertegur sapa dijalan atau membunyikan sesuatu. Apabila dilanggar selain terdapat sangsi adat, juga dipercaya akan terkena tulah alam. Semua itu mgkin terlihat merepotkan, tetapi tidak bagi masyarakat di Saga. Sebab serangkaian ritus beserta tata aturan itu merupakan proses membangun harmoni terhadap alam & sesama, serta merupakan hasil pembelajaran selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Syruuppuuttt...mari belajar kehidupan pada mereka yang bersetia pada jalan tradisi.

;)

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page