top of page

TODDOPULI & KUCING BELANG

  • Jun 21, 2016
  • 2 min read

Di Makassar, saya numpang tinggal di rumah AMAN SULSEL (aliansi Masyarakat Adat) yang berada di sekitar jalan Toddopuli. Dalam bahasa Bugis, Toddopuli itu artinya tali simpul atau bisa juga dimaknai sebagai bentuk keteguhan hati. Itu merupakan salah satu prinsip hidup paling mendasar bagi masyarakat Bugis. Mungkin krn itu orang-orang bugis dikenal sebagai masyarakat yang tangguh dalam memegang komitmen. Saking kuatnya keyakinan tersebut sehingga ketika meyakini sesuatu pantang untuk goyah dan cenderung tidak mau tahu dengan keyakinan lain, apalagi jika keyakinannya digugat, dilecehkan. Mereka akan sangat marah karena harga dirinya akan seperti dicabik. Maka ujung-ujungnya akan terlibat kekerasan. Berapa banyak sudah darah mengalir karena Sirri' ini.

Padahal tidak mesti seperti itu. Sebab dalam diri manusia selalu ada sisi kelembutan. Sisi yang selalu mengarahkan jiwa manusia untuk senantiasa mengedepankan harmoni, menghargai liyan, dan melihat segala-sesuatu tak dengan kacamata kuda. Itulah jiwa seni, jiwa halus yg mengarahkan manusia pada sikap kebajikan. Seni, menjadi perantara, seperti Meong Pallo, kucing belang, dalam sequel kisah Ilagaligo. Penghubung antara Sawerigading dan We Cudai. Antara jiwa keras dan kelembutan.

Dalam sastra bugis Ilagaligo tersebut~yang dianggap sebagai buku suci bagi sebagaian besar masyarakat~banyak diajarkan bagaimana manusia menyikapi keadaan. Meong Pallo adalah suara lain dalam diri Sawerigading, yang senantiasa memberi gambaran dan peringatan ketika kemarahan sudah menguasai diri Pangeran Sawerigading.

Begitulah, malam tadi hingga menjelang sahur saya terlibat diskusi yang sangat panjang tentang banyak hal, dari persoalan senirupa kontemporer, sejarah sosial & kebudayaan, hingga cerita-cerita rakyat sebagai contens utama dalam karya seni. Diskusi yang sangat seru dan berbobot dengan seorang perupa yang sudah malang melintang dijagat kesenian nasional maupun internasional. Siapa lagi jika bukan bang Zam Kamil, sahabat saya sejak dijogja dulu yang kini memilih untuk tinggal & berkarya di kampung halamannya di Makassar.

"Perkembangan senirupa di Makassar memang masih seperti jalan di Tempat," katanya. "Tetapi saya percaya gerakan ini harus dimulai dengan terlebih dulu membangun apresiasi yang baik di masyarakat," ungkapnya.

Saya sungguh senang menyaksikan karya-karyanya, apalagi melihat langsung beberapa catatan prosesnya di studio yg merangkap tempat tinggalnya di Makassar. Sebab setahu saya, sedikit perupa kontemporer yg mau belajar, mengkaji secara serius dan mendalam kazanah tradisi. Apalagi menuangkannya dalam karya-karya mereka.

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page