top of page

SURGA & NERAKA DI GUNUNG KALIMUTU

  • May 2, 2016
  • 2 min read

Seharian kemarin saya pergi ke Kelimutu yang terkenal itu. Bukan sekedar untuk berwisata, tapi juga be-tabik. Sebab bagi masyarakat Ende, khususnya suku Lio, Gunung Kelimutu dengan 3 danau berwarnanya itu adalah tempat suci yang sangat disakralkan.

Danau yang berada diketinggian 1600 m DPL ini terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kalimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapainya, anda harus menempuh perjalanan hinga 45 km dari Ende. Perjalanannya sungguh mengasyikkan. Jalanan sangat bagus mengikuti alur sungai yang melewati pegunungan dan persawahan dengan pemandangan yang sangat indah.

Setiba di Kelimutu, saya diberi pinang Oleh Bapak Martinus yang menjadi juru kunci Gunung Kalimutu, dan berkhidmat pada batu. Bukan, masyarakat Lio bukanlah penyembah batu, tetapi mereka menghormati batu tertentu sebagai benda keramat. Menurut kepercayaan Lio, batu itu terlahir/terbentuk dari inti alam, cairan panas yang menggumpal dan mengeras oleh waktu. Para Tetua, Mosalaki, percaya, batu bukanlah benda mati. Ia hidup, dan berjiwa. Mereka juga percaya tulang manusia adalah sejenis batu, dan tubuh kita adalah tanah. Karena itu pada batu-batu tertentu, ruh-ruh bersemayam sebelum memasuki alam pencucian.

Mereka yang masih memiliki hawa jahat, suka mempraktikkan Suwanggi/sihir akan berada di Tiwu Atapolo, kawah pertama yang berwarna coklat atau merah kehitaman. Sedang anak-anak dan remaja, dosanya belum terlalu banyak. Mereka akan berada di Ko'o fai nuwa muri, kawah danau berwarna toska. Dan mereka yang paling sedikit dosa, berada di danau ke tiga Ata Bupu sebelum mencapai Wawo Ji'e, alam syurga loka.

Demikianlah, setiap bulan Rambutu atau kedelapan, para keluarga dan sanak famili berziarah, berjalan puluhan kilo menerobos hutan, melintasi jurang, mendaki perengan gunung dg membawa aneka persembahan untuk sampai di Kelimutu. Mereka duduk melingkari Tubu Mbusu~Batu penyambung suara, untuk menari, bernyanyi, menghibur para Ruh, dan para Tetua berdo'a agar mereka segera dibebaskan dari dukana dan mencapai alam tertinggi.

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page