top of page

THE SOUL OF THE HIGHLAND

  • Jan 15, 2016
  • 3 min read



Perjalanan dari Gunung Tua menuju Bukittinggi meskipun melelahkan tapi cukup menyenangkan. Selepas Padang Sidimpuan, jalanan berkelok-kelok mengikuti alur sungai yang diapit tebing terjal membuat keseimbangan otak ikut bergoyang-goyang juga. Tiba-tiba rasa kantuk menyerang sangat hebat. Sayapun berhenti sejenak di Bonjol, dibawah gerbang Equator atau katulistiwa.


Mungkin karena pikiran yang agak kacau itu, ditambah dengan bapak tukang warung yang terus bertanya ini itu dari soal perjalanan, rambut, sampai sepeda motor sehingga saya tidak jadi mengunjungi Museum Imam Bonjol. Padahal letaknya pas disebelah gerbang kpistiwa. Tinggal jalan kaki masuk, tapi rasanya enggan sekali. Sehingga selama perjalanan dari Bonjol sampai ke Bukittinggi jadi kepikiran terus. Rasanya pingin kembali ke Bonjol saja.


Sepanjang perjalanan itu saya terus berpikir, apakah benar Perang saudara antara sesama Minang dan Mandailing yg sering disebut sebagai Perang Padri itu hanya dilatari oleh pertentangan ajaran agama seperti tertulis dibuku-buku sejarah formal? Bahkan secara dikotomis perang itu seolah membelah masyarakat mjd kaum Syariat dan Kaum adat.


Jamak disebutkan bahwa perang yang berkobar dari tahun 1803-1833 itu disebabkan karena segolongan ulama yang baru pulang dari Arab setelah mempelajari paham Wahabi menentang kebiasaan yang konon lazim dilakukan kaum adat seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Sehingga perang tersebut menempatkan kaum Padri sebagai golongan putih dan orang adat sebagai golongan hitam. Tetapi bagaimana mungkin jika hanya itu persoalannya, kenapa pula bisa berlangsung sangat lama dan begitu berdarah-darah?


Mungkin jawaban formalnya karena kaum adat melibatkan Belanda setelah gagal membujuk Inggris utk terlibat karena kekuasaannya di Nusantara berakhir pd tahun 1815. Tetapi apa pula kepentingan Belanda, dan serta merta ia mau terlibat dalam peperangan yg sangat mahal?

Saya memang menduga, kepulangan 3 ulama dari mekah yakni Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang, tidak sekedar mmbawa paham Wahabi. Makkah saat itu mmg sedang menjadi poros gerakan anti kolonialisme yg menindas bangsa2 Asia selatan dzn Afrika yg mayoritas muslim. Mereka mmbawa semangat dan cita-cita kebaruan, tentang Pan Islamisme, persatuan Islam sedunia dan memulai gerakannya dg melawan kebodohan & "pembodohan" yg terjadi di masyarakat. Dan itu sangat lekat pada masyarakat feodal, kaum adat, yg lbh menyukai takhayul, padahal mereka hidup dihisap kaum bangsawan dg kedok tradisi.


Dalam konteks Perang Padri bisa jadi itu adalah sebentuk revolusi, dari masyarakat "pinggiran" Minang melawan kaum bangsawan feodal (Pagaruyung?) yg korup. Dan agama, terbukti menjadi bahasa yang ampuh utk mengobarkan semangat perlawanan itu. Dan ketika mrk terdesak karena privillage atas pajak dan penguasaan tanahnya mulai terancam oleh kaum yg dicap oleh kolonial sbg "puritan & fundamentalis" akhirnya mrkpun berkongsi dengan Belanda.


Ya, terutama setelah Inggris hengkang 1815, belanda mmg sangat getol melakukan ekspansi untuk melangsungkan industrialisasi perkebunan (culture steelsel) di tanah jajahan. Dan perang itu jelas tidak mudah, selain karena jiwa militan para Padri, alam minangkabau yg bergunung-gunung jelas menjadi benteng alam yg luar biasa bagi para pejuang.


****


Di Bukittinggi, kota berhawa dingin yg diapit dua gunung berapi ini (Singgalang & Merapi) saya tinggal bermalam di sebuah pesantren tua yang berada di Canduang, kurang lebih 10km dari pusat kota. Rasanya benar-benar pulang ke habitat alamiah saya hehe...ya meskipun beda jauh kondisi alamnya dengan desa kelahiran saya di Kaliwungu yg panas kerontang, tapi kehangatan pesantren yang berdinding dan beralas kayu dengan suasana khas pesantren~riuh para santri menghafal pelajaran & banyak baju-baju yang tergantung didinding~ membuat saya sangat betah. Sungguh, rasanya ingin berlama-lama saja.


Bangunan berdinding kayu yg saya tempati ini memang sudah ada sejak pesantren ini berdiri tahun 1928! Dan merupakan tempat bersejarah, dimana Syeikh Sulaiman Arrasuli, yg merupakan ulama intelektual sangat di hormati di Sumatera Barat, Kakek dari sahabat saya Beni Kharisma Arrasuli mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya. Beliau tidak hanya pakar dalam agama tetapi juga sangat memahami adat, tercermin dari buku karangan beliau yg berjudul : Pertalian adat & syari'at di Minangkabau. Sebuah karya yang mencoba merangkai titik temu agama dan adat yang selama ini sering dipertentangkan, bahkan meledakkan perang puluhan tahun itu.


Saya percaya jika keduanya saling melengkapi akanmenjadi kekuatan sosial yang sangat heibat. Agama menjadi penuntun/penunjuk jalan, dan adat memperkokohnya.


Sy juga sempat jalan-jalan ke perkampungan dan mengunjungi Masjid Raya Dingkudu, masjid tua di lereng G. Merapi tak jauh dari pesantren Tarbiyah Canduang. Arsitekturnya sungguh indah dengan dominasi struktur kayu yang di cat warna biru. Tempatnya sangat tersembunyi, mingkin karena didirikan pada era Perang Padri sekitar tahun 1823. Masjid ini, konon jg mjd salah satu markas para Padri dlm perang melawan kompeni.


Alhamdulillah, selain bisa merasakan "jiwa" tanah & air Bukittingi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Pagaruyung & Padang, sy sempat memberikan kelas inspirasi kepada adik-adik santri. Ya sekedar berbagi pengalaman dan kiat-kiat ringan tentang kepenulisan.


 
 
 

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page