top of page

Cerita dari TANAH DATAR

  • Jan 14, 2016
  • 1 min read

Ke Sumatera Barat rasanya belum afdol jika tidak singgah di Istano Basa atau yang lebih dikenal sebagai Istana Pagaruyung yang berada di Batu Sangkar- Kab. Tanah Datar. Konon awalnya istana itu dibangun di atas bukit. Namun akibat kerusuhan berdarah 1804 (awal perang Padri?) istana ini hancur dan pindah ke bawah bukit. Pd th 1966 & 2007 istana dg 72 pilar raksasa dan 11 Gonjong ini jg pernah terbakar akibat sambaran petir. Namun berkat kecintaan masyarakat Minang seantero dunia terhadap warisan tradisi, istana inipun cepat dibangun dan berdiri lebih kokoh dari sebelumnya.

Ya, istana Pagaruyung adalah bukti eksistensi sejarah panjang masyarakat Minang dalam menyusun dan membangun peradabannya, meskipun awalnya banyak yang meragukan bahwa kerajaan Pagarruyung (1347-1825) lebih mewakili tradisi Melayu dibanding Minang, sebab kerajaan ini konon di bangun oleh Adityawarman (putra R. Wijaya Kaisar Majapahit?) setelah memindahkan pusat kerajaan dari Dhamasraya ke daerah Tanah Datar sekarang ini tetap menamainya sebagai Malayapura.

Kontur geografis dari istana Pagarruyung ini mmg sangat menarik. Berada disebuah cerukan lembah (Tanah Datar) yang dikelilingi pegunungan bukit barisan disebelah utara/timur bisa jadi merupakan benteng alamiah yang cukup hebat untuk menahan serangan dari Majapahit, Thailand bahkan Tiongkok (mongol). Daerah Tanah datar, selain merupakan penghasil lada yg menjadi komoditas rebutan era itu, jg merupakan penghasil emas yang sangat besar. Bahkan daerah yang kini berdiri kokoh istana itu namanya Tanjung Emas dan Adyawarman sendiri memiliki gelar " Kanakamedinindra" yg artinya Penguasa Pulau Emas.

Syruuppuutt siang...kekayaan harta akan habis jg pada masanya, tapi kekayaan hati, ia akan terus menyinari semesta. Terimakasih atas dukungan kawan-kawan semua atas perjalanan ini, terutama atas kebaikan keluarga Didi Novrian selama saya di Padang.

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page