top of page

PANNAI & Negeri Yang Kehilangan Ibu

  • Jan 11, 2016
  • 2 min read

Saya sering bertanya, apa yg membuat sebuah peradaban itu bisa sirna? Mungkin pertanyaan itu pula yang mengantarkan saya kembali kesini, ke sekitar Gunung Tua, di Kabupaten Padang Lawas (Utara) ini.

Ya, ketika mendengar kata “Gunung Tua”, kesan yang muncul kemudian adalah rimbun hutan, pohon-pohon dengan akar-akar bergelantungan, batu-batu besar, gunung tinggi menjulang dengan tebing-tebing terjal menganga. Sayangnya tidak ada apa-apa disini, hanya hamparan sawit, sawit, sawit, dan karet sepanjang jalan. Tidak ada gunung, bahkan perbukitan tinggipun tidak, apalagi hutan angker.

Memang, kesan angker, mistis, itu cukup terasa. Mungkin juga karena teman-teman selalu ‘menakut-nakuti' dengan pesan agar hati-hati jika lewat daerah itu. Jangan makan sembarangan, mereka suka menaruh "sesuatu", semacam mantra atau racun yang bisa mencelakai orang. Masyarakatnya konon sangat klenik, kurang suka pendatang dst. Sayapun takut-takut cuek jadinya. seperti ketika makan Holat (ikan kuah sayur rotan muda) di sebuah warung pinggir jalan tadi, rasanya jadi tidak tenang takut ada apa-apa hehe.

Saya jadi penasaran, ada apa sebenarnya?

Di daerah Gunung Tua ini terdapat situs tua negeri Pannai. Negeri yang "hilang", entah oleh apa. Konon negeri ini dulunya sangat makmur. Masyarakatnya menambang emas dan membangun candi-candi megah sepanjang lembah dan dataran yg mengikuti alur sungai. Candi-candi tersebut menggunakan bahan bata, itu artinya mereka sudah mengenal tehknologi tinggi. Candi-candi tersebut dibangun sebagai rasa syukur kepada ibu bumi (portibi=bhs batak, partivi=sansekerta) sekaligus upaya mengembangkan pengetahuan "keselarasan" dengan alam.

Kemakmuran itupulalah yg kemudian mengundang bangsa asing, jauuh sekali, bangsa Cola dari India Selatan (Tamil) pada tahun 1025 menyerbu dan menjarah seisi kerajaan. Namun kerajaan Pannai tetap berdiri kokoh, bahkan ketika pada abad ke 12 kerajaan Singhasari dari Jawa Timur mengekspansi mereka, kerajaan ini tetap bisa bangkit berdiri meski sempoyongan. Lalu Orang-orang Majapahit, pada abad-abad berikutnya juga mengincar emas dan harta mereka melalui serbuan membabi buta. Tetapi konon mereka tetap bertahan meskipun remuk redam. Tidak diketahui pasti kenapa kerajaan ini bisa surut dan menghilang. Mungkin, ini mungkin lho, sebagaimana rupa kebudayaan/peradaban pada umumnya, mereka surut dan hilang justru karena kehilangan tradisi menghormati ibu bumi. Masyarakatnya semakin abai dengan keselarasan alam (ini jelas pandangan subyektif akibat jengah dg sawit hihihiii…)

Saya juga tidak tahu, apa hubungannya Pannai dengan Bangsa Munda alias Munda Holing (Ibu yang hilang), atau kita kenal sebagai Mandailing sekarang ini. Bangsa Melayu Tua yang hidup disebelah selatan/barat negeri Pannai, di pegunungan Bukit Barisan menghadap Samodra Hindia. Sebab konon, ibu kota Pannai justru di timur, dekat selat Malaka dan menjadi Mandala (bawahan) dari Srivijaya.

Kini, Negeri Pannai memang tinggal nama. Kebesarannya hanya menjadi nama marga (Pane). Sementara sisa-sisa warisannya, candi2 yang heibat itu juga sebagian tak terurus lagi. Seperti tadi siang, ketika saya datang ke beberapa candi yg terbuat dari Bata merah itu, candi Bahal di tepian sungai Padang Pane Potibi dan Candi Sipamutung di bibir sungai Barumun, kondisinya sungguh mengenaskan. Taman dan lingkungannya sangat bagus tp bagian daLam batanya banyak yang hancur, sebagian seperti dicungkili tangan2 jahil. Apalagi bata merah mmg sangat rentan rusak. Candi Barumun/Sipamutung tempatnya tersembunyi. Tak ada rambu2 atau penunjuk arah. Hanya jalanan becek berliku menyusuri kebun sawit, dan melintasi jembatan panjang yang hampir roboh. Sungguh perjalanan paling menantang selama sy bertualang keliling Sumatera. Tapi sy tetap bersyukur bisa bertemu dg peradaban yg hilang itu, meski hanya secuil jejaknya.

 
 
 

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page