top of page

HILANGNYA PARA SILUMAN PENJAGA DANAU DAN KRISIS LINGKUNGAN HIDUP KITA

  • Jan 5, 2016
  • 2 min read

Alkisah, ada seorang janda muda cantik jelita dengan anak semata wayangnya hidup di tepian danau Laut Tawar. Janda itu mengundang guru ngaji untuk mengajari anaknya membaca al qur'an. Guru ngaji itu terpesona dg kecantikan janda muda itu, dan dengan segala cara iapun me-melet, mengguna-gunai janda cantik itu dg sehelai bulu kerbau yg dimantra-mantrai. Namun Tuhan berkehendak lain. Guru ngaji itu justru termakan ajiannya sendiri, ia tergulung oleh kulit kerbau dan berubah menjadi makhluk jadi-jadian penunggu danau. Masyarakat Takengon menyebutnya Lambide.

Ya, hampir disemua tempat memiliki mitos dan legendanya sendiri. Di Danau Poso yang berada di kecamatan Pamona Poso Sulawesi Tengah ada Torandauwe, tujuh putri penjaga danau. Mungkin ada ribuan folklore mirip spt itu ditempat lainnya, yang intinya berbicara tentang kearifan lokal. Ttg bagaimana cara mereka menjaga harmoni dengan alam kehidupan yang melingkupinya.

Bagi masyarakat arkhaik, danau adalah sumber kehidupan. Sebab dari danaulah sungai-sungai mengalir ke lembah-lembah, mengairi sawah ladang, orang-orang mandi, mencuci dan menangkap ikan disana. Bahkan boleh dikata, kebudayaan-kebudayaan besar di masa lalu lahir dari lubuk danau2 ini. Karena itu biasanya masyarakat tradisi sangat menghormati danau.

Danau tektonik, apalagi vulkanik itu biasanya berada ditempat tersembunyi, jauh dipedalaman hutan, dilingkari gunung-gunung menjulang. Tidak mudah untuk menjangkaunya. Karenanya danau sering dianggap sbg tempat sakral, tempat benda-benda bertuah, pusaka-pusaka berikut dengan segala rahasia alam disimpan dan dirawat oleh dewa-dewi, mahluk-mahkluk supranatural, hewan raksasa atau siluman jadi-jadian. Hanya para pertapa sakti, atau orang-orang yang menempuh jalan kesunyian mampu berkomunikasi dengan alam tersebut. Sebab tidak mudah memahami alam pikiran demikian. Banyak sekali rambu-rambu aturan, atau tabu-tabu yang tidak boleh dilanggar atau siapapun akan binasa dilenyapkan oleh makhluk penjaga danau jika berani menentangnya.

Tetapi siapa kini yang percaya mitos itu? Jalan-jalan mulai di bangun membelah belantara, melintasi gunung dan danau. Orang-orang mulai tinggal berkerumun di sekitarnya. Danau yang sunyi berubah menjadi kota yang "indah" dengan rumah-rumah, villa-villa atau tempat peristirahatan mewah. Para pendudukpun berjubel disekitarnya, namun rumah mereka tak menghadap danau, tapi jalan raya yang melingkari danau itu. Mereka tidAk lagi menghormati danau, apalagi makhluk astral penjaganya. Danau hanya menjadi kubangan tempat segala carut marut hidup dibenamkan pada lubuknya. Setiap hari libur ribuan org jg berdatangan untuk rekreasi. Plastik dan kotoran lainnya menumpuk di pinggir-pinggirnya. Tak terhitung berapa ribu liter detergen yang terbuang ke danau setiap harinya.

Di teluk-teluk danau yang dulu menjadi tempat persembunyian para siluman penjaga itu, kini banyak berderet karamba-karamba. Setiap hari ribuan ton palet, konsentrat kimiawi, ditabur untuk mempercepat penggemukan ikan-ikan di dalam kerangkeng2 itu. Sebagian besarnya mengendap di dasar danau, menjadi racun yang tidak hanya membunuh ekosistem di dalam danau tapi juga ikut mengalir ke sungai-sungai. Sementara hutan gunung dan bukit-bukit yang melingkarinya, habis digunduli untuk kebun kopi atau sawit. Duhh, nestapa apalagi yang harus di tanggung ibu bumi?

Syruuppuutt pagi... Org bijak bilang : berani mencintai harus siap terlukai, sbgmn mawar senantiasa berduri. Bahwa kecantikan, keindahan, jg akan sirna bila kita tak pandai merawatnya. Mgkin ini saatnya menebar kebaikan utk sesama & lingkungan kita.

;)

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page