top of page

MERAWAT KEINDONESIAAN MELALUI PENGUATAN KOMUNITAS LOKAL

  • Aug 29, 2016
  • 3 min read

Kelas Berbagi Rumah Kreasi Baku Peduli

Minggu, 28 Agustus 2016

Indonesia dengan 1280-an suku dan 700-an bahasa lokal adalah modal yang sangat besar untuk menjadikannya sebagai sebuah bangsa yang besar. Dengan kekayaan adat dan lokalitasnya itu Indonesia memiliki modal sosial dan modal komunal untuk bernegosiasi dengan ombak besar perubahan yang sedang dan akan terjadi.

Demikianlah salah satu poin yang menjadi kesimpulan diskusi 'Kelas Berbagi' Rumah Kreasi Baku Peduli-Labuan Bajo, Minggu malam, 28 Agustus 2016.

Dengan tema umum 'Budaya dan Identitas', Paox Iben Mudhaffar, seorang pegiat budaya dan kajian keagamaan kelahiran Semarang namun kini menetap di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) berbagi pandangan tentang Indonesia dan Keindonesiaan mulai dari sejarah masa lalu hingga pergulatan dan pergumulan yang dihadapinya hari ini.

Mengawali diskusinya, aktivis jebolan Studi Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta dan Studi Ilmu Agama dan Budaya Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta ini memutar dua film dokumenter pendek. Satu film tentang rekaman jejak perjalanannya keliling Indonesia dan perjumpaannya dengan pegiat budaya dan pengurus lembaga masyarakat adat setempat mulai dari Halmahera-Maluku hingga Ende, Flores-NTT. Satu filmnya lagi adalah sebuah cuplikan singkat tentang Novel 'Tambora 1815', sebuah novel sejarah yang ditulisnya tentang letusan Gunung Tambora di NTB pada tahun 1815. Sebuah novel yang menceritakan peristiwa sebelum dan sesudah letusan Gunung Tambora. Berkisah tentang pergulatan kepentingan, cinta dan kehidupan yang menyelimuti bumi Aram-aram dan bagaimana hegemoni politik ekonomi Eropa membasuh peradaban-peradaban lugu Tambora dan sekitarnya. Letusan Gunung Tambora mengubur tiga kerajaan kala itu.

Berawal dari dua film dokumenter pendek itu, lelaki kelahiran Semarang ini menghadirkan ingatan peserta diskusi akan rentean peristiwa demi peristiwa masa lalu dan keterkaitannya dengan gelombang ekonomi dunia hingga hari ini.

Diskusi 'Kelas Berbagi' semalam juga pada akhirnya menyentuh apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi di Labuan Bajo, Manggarai Barat-Flores, NTT.

Menurut, Paox, panggilan akrabnya, dunia kini sedang bergerak ke arah yang lebih cair, transparan, tanpa sekat (beyond the boundaries). Sekian tahun lalu, Labuan Bajo~Kab. Manggarai Barat, sebuah Kabupaten yang hanya berada di barisan belakang, jauh dari pusat pemerintahan propinsi, apalagi Jakarta. Dalam kacamata pembangunan yang sentralistis, daerah ini hanyalah wilayah periferal, pinggiran, dan terabaikan.

Namun kini, orang dari seluruh penjuru dunia belum merasa ke Indonesia jika belum ke Labuhan Bajo, mengunjungi pulau Komodo dan berswafoto (selfi) di atas puncak pulau Padar dengan latar gunung dan laut yang sangat menawan itu.

Menurutnya, industri pariwisata itu merupakan "permainan" tingkat dewa, bagian dari gelombang revolusi ekonomi keempat, dimana akumulasi modal/kapital, resource, dan jaringan berpadu dengan kreatifitas tiada tara. Banyak hal yang dipertaruhkan, tetapi jelas, masyarakat kita tidak disiapkan untuk itu.

Suka tidak suka, mau tidak mau kita mesti menghadapi gelombang besar itu. Namun percuma kita melawan ombak besar. Lebih baik kita membuat papan surfing dan berselancar di atasnya.

Namun tentu saja, papan surfing model apa yang mesti kita buat? Tentu saja, cara menjawab paling baik adalah dengan melakukan upaya-upaya kecil, secara perlahan, dan terus-menerus.

Demikianlah 'Kelas Berbagi' semalam di Rumah Kreasi Baku Peduli semalam. Diskusi ini dihadiri oleh belasan kawan-kawan pegiat komunitas dan praktisi pariwisata di Labuan Bajo yang juga turut menyumbangkan pikiran dan pandangan terkait apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi di Labuan Bajo hari ini dan upaya-upaya apa yang mesti kita buat sedari sekarang.

Akhirnya, kami mengucapkan terimakasih kepada Bang Paox yang sudah berbagi pandangan dan kepada kawan-kawan yang sudah datang berbagi. Semoga ada kapan-kapan yang memampukan kita bisa berjumpa lagi di masa datang.

Trimakasih. Salam Berbagi!Sebab berbagi adalah cara kita menyebar cinta dan cara untuk membuat kita saling jatuh cinta terus menerus! Sampai jumpa di Kelas Berbagi berikutnya!

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page