top of page

INDONESIA DALAM SEMANGKUK SOTO

  • Jan 16, 2016
  • 1 min read

Soto dimana-mana mungkin hampir sama, kuah/kaldu + daging. Yang membedakan bisa jadi cmn variasi & bumbu (kadar) rempah-rempahnya. Sebagaimana masakan Padang pada umumnya, citarasa Soto Padang itu jg kental + puedes kuah rempahnya berasa bingitz meski tidak pakai cabai/sambal. Di tambah dg variasi paru goreng serta kentang, sangat asyik dinikmati pada malam hujan begini.

Menikmati soto Padang yang full rempah2 bersama para sahabat malam ini, mau tidak mau sayapun jadi berpikir, jangan-jangan mmg benar bahwa rempah-rempahlah yang menyatukan kita, membentuk jadi diri kebudayaan, bahkan melahirkan nation state bernama Indo (induk) nesia ini? Sebab bukankah 350 tahun penjajahan itu dipicu oleh perburuan rempah2? Bahkan jauh sebelum Penjajah Eropa datang, Bangsa India sudah mengarungi lautan utk ke Nusantara sejak abad ke 2 Masehi karena rempah-rempah ini, lalu disusul bangsa Mesir dan Arab.

Dalam konteks Nusantara sendiri, bebagai ekspansi dan peperangan antar kerajaan sebagian besar juga dilatari perebutan jalur & monopoli perdagangan rempah ini. Seperti ekspedisi Pamalayu pertama pada era Kretanegara Raja Singosari misalnya, juga karena perburuan sumber rempah2 ini.

Ya, bahkan dalam semangkuk soto yang nikmat ini, kita senantiasa diingatkan, betapa panjang perjalanan kita untuk mjd bangsa yang besar spt sekarang ini, dg 300jt penduduk yang tersebar dlm 17.000 pulau serta perbedaan 500 bahasa dan budaya (suku). Dengan fakta keragaman demikian, tentu saja banyak persoalan terjadi di negeri ini. Dari persoalan kemiskinan, keadilan sosial, patologi sosial, korupsi serta krisis moral lainnya. Tetapi jelas, tidak ada alasan untuk menyerah pada keadaan, berputus asa, membuang akal sehat, bahkan sampai melukai hati sesama saudara sebangsa (apalagi sampai meledakkan diri & bunuh2an).

Syruuppuutt malam...Nyoto wae ben waras yuukkk. :D

Comments


Who's Behind The Blog
Recommanded Reading
Search By Tags
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Novel pertama saya berkisah tentang Perjuangan seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan yang berakhir tragis. Secara umum novel ini berkisah tentang konflik investasi pertambangan dan kepariwisataan dengan lokus view di Lombok.

Novel yang ditulis disela-sela kunjungan/muhibah budaya di Oman ini berkisah tentang percintaan antara seorang pemuda Indonesia dengan Gadis Arab yang berakhir tragis. Secara umum novel ini banyak mengekspolari khazanah budaya, sejarah, akar konflik dan konfigurasi perpolitikan di Timur tengah terutama terkait dengan dunia perminyakan serta ideologi keagamaan. 

Letusan Gunung TAMBORA di Pulau Sumbawa pada tahun 1815 sering dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern dan mengubur 3 kerajaan di sekitarnya. Namun tidak banyak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu, terutama di sekitar gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara (4700 mdpl) sebelum meletus itu. Novel ini berkisah tentang konflik di era kolonialisme akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, dimana terjadi perubahan moda kolonialisme dari rempah-rempah menuju industri perkebunan.  

Please reload

bottom of page